
Carl Jung: ” Pleasure is never simple, as you very well know.”
Otto Gross: “It is. Of course it is. Until we decide to complicate it. What my father call maturity, what I call surrender.”
Bagaimana jika kita diberi kesempatan untuk menyaksikan dua tokoh dunia berbincang di tempat tertutup di mana mereka tidak merasa diamati? Apakah ilmuwan yang mengungkapkan teori-teori yang akhirnya digunakan oleh berjuta orang dan turut mengubah wajah dunia sadar akan pengaruhnya pada saat mereka mendapatkan ilhamnya?
Beberapa tahun terakhir ini saya kebetulan tertarik dengan bacaan tentang Carl Gustav Jung termasuk buku-bukunya. Jika kita riset tentang Jung, nyaris tak terhindarkan kita juga akan menemukan hubungannya dengan Sigmund Freud, pelopor psikoanalis yang lebih tua dari Jung. Karena itu ketika Dangerous Method dirilis, saya tidak menunggu terlalu lama untuk menontonnya. Film ini sebagian besar bercerita tentang Jung beberapa saat sebelum perang dunia pertama. Pada masa ini dia pertama kali mencoba metode ‘mengajak berbicara’ pasien dia yang memiliki problema psikologis. Pada masa ini pula dia pertama kali bertemu dengan orang-orang yang berpengaruh besar dengan cara pemikirannya dan teori-teorinya, Sabina Spielrein dan Sigmund Freud. Bagaimana Jung dan Freud bertemu pertama kalinya ketika Jung berusia 30 dan Freud 50 tahun, dan mereka berdiskusi hingga tidak terasa pada pertemuan pertama itu mereka telah ngobrol selama 13 jam tanpa henti (don’t you love it when it happens?). Diceritakan juga bagaimana seorang wanita Rusia, Sabina Spielrein yang awalnya adalah pasien Jung memengaruhi teori yang nantinya dicetuskan oleh Jung (dan saya baca kemudian jatuh hati) dan akhirnya Spielrein menjadi psikoanalis wanita terkemuka di jaman itu.
Film ini harusnya datang dengan disclaimer, bahwa metode yang digambarkan tidak seberbahaya yang mungkin dibayangkan oleh calon penonton. Tentunya standar ‘berbahaya’ kita terkadang sudah sangat ekstrim. Awalnya adalah sebuah buku nonfiksi yang berjudul A Most Dangerous Method: the Story of Jung, Freud and Sabina Spielrein yang ditulis oleh Joh Kerr, yang kemudian dibuat drama panggung The Talking Cure pada tahun 2002 oleh Christopher Hampton, dan akhirnya menjadi kerjasama ketiga antara Viggo Mortensen (berperan menjadi Freud) dengan David Cronenberg setelah A History of Violence dan Eastern Promises. Saya yang awalnya agak skeptis dengan Viggo menjadi kagum melihat kemampuannya mengungkapkan karakter Freud di sini yang memiliki lapisan yang cukup kompleks. Setiap kata “huh” atau “hmm” yang dilontarkan mencerminkan rasa sayang, terintimidasi atau iri dari matanya yang saya kira tadinya Viggo tidak punya kedalaman cukup sebagai seorang aktor. Bahkan di sini tidak jarang Viggo menyebabkan saya terkikik karena geli.

Michael Fassbender pun memerankan Jung dengan sangat mengesankan. Timing dalam melontarkan dialog dalam debat dan diskusinya dengan Emma Jung(Sarah Gadon) juga Freud dan Spielrein sangat relatable dan juga membuat hati saya berbunga-bunga (saya rasa jika Anda familiar dengan teori-teori Jung akan merasakan hal yang sama). Yang patut dicatat juga di sini adalah Vincent Cassel yang memerankan Otto Gross, seorang psikoanalis yang bermasalah. Walaupun on screen appearance-nya cukup singkat, tetapi menimbulkan kesan mendalam karena kata-kata yang dilemparkannya tentang kedewasaan. Kiera Knightley cukup baik kalau tidak agak terlalu berlebihan (seperti biasa) memerankan Spielrein. Saya cuma suka dia di Atonement. Menurut saya yang paling menonjol dari film ini adalah ‘bromance’ yang terjadi antara Freud dan Jung yang pada saat-saat tertentu sangat mengharukan Entah mengapa akhir-akhir ini saya jauh lebih tersentuh dengan film bromance dibandingkan dengan romance.
Cronenberg tentunya tidak usah disangsikan lagi dalam penyajian sinematografisnya. Mungkin ini memang film di mana para aktornya begitu kuat presence mereka sehingga setting yang terbatas dan umumnya terjadi di dalam ruangan tidak terasa membosankan sama sekali. Bahkan ada beberapa scene seperti pada saat Jung berbicara dengan Freud di kapal yang jelas-jelas diambil di set sangat kental referensinya pada film-film drama klasik, bagi saya ini bagian paling menyentuh dan klimaks dari diskusi mereka.
A definitely must see for Jung and Freud fanboys and girls.
Rating: 














On the contrary I think psychoanalyzing Keira’s acting method is as hardcore as any revenge type drama against mutant dictators. Fassy really pulled this one off.