
Henrik Vanger: ” You will be investigating thieves, misers, bullies. The most detestable collection of people that you will ever meet… MY FAMILY “
Mikael Blomkvist (Daniel Craig) adalah wartawan-penyelidik dan co-owner dari majalah Millenium yang dituduh memalsukan berita tentang sepak terjang illegal sebuah perusahaan berskala besar yang dipimpin oleh pengusaha korup Hans-Erik Wennerström. Akibatnya Mikael dihukum dengan diwajibkan untuk membayar denda sebesar 600,000 kronor (kira-kira 87.000 dollar) oleh pengadilan. Lalu ada seorang konglomerat mantan CEO dari sebuah perusahaan ternama di Swedia, Henrik Vanger (Christopher Plummer) yang menawarkan kerja sama kepada Blomkvist untuk menyelidiki kasus hilangnya cucu-keponakannya dengan imbalan menggiurkan yang tidak sanggup di tolak Mikael.
Tapi yang kemudian menjadi masalah besar adalah kasus tersebut ternyata sudah berusia hampir 40 tahun dan sampai sekarang masih belum ada titik cerah tentang keberadaan perempuan bernama Harriet Vanger tersebut, apakah ia masih hidup atau sudah meninggal? Vanger sendiri meyakini bahwa cucu kesayangannya yang pada waktu itu masih berusia 16 tahun sudah meninggal karena dibunuh. Mikael mendapatkan bantuan dari seorang perempuan muda misterius yang juga seorang hacker jenius dengan penampilan “unik” serba hitam, Lisbeth Salander (Rooney Mara). Dengan bersenjatakan laptop dan kemampuan berpikirnya yang cerdas, Lisbeth bahu membahu bersama Mikael untuk memecahkan kasus keluarga yang rumit ini.
Tahun lalu Rooney Mara hanya muncul sebentar di adegan pembuka The Social Network sebagai Erica Albraight, gadis yang membuat seorang Mark Zuckerberg terinspirasi untuk menguasai dunia dengan facebook nya yang fenomenal it, namun siapa yang menyangka berkat peran kecilnya itu tahun ini, dengan sutradara yang sama, David Fincher memberi kesempatan lebih besar kepadanya untuk tampil habis-habisan, mendobrak semua batasan-batasan fisik dan mental seorang artis dalam peran beraninya sebagai anti-heroin di crime-thriller terbaru Fincher yang juga merupakan adaptasi bagian pertama dari trilogi Millenium, novel laris Swedia yang sudah dibaca lebih dari 30 juta orang diseluruh dunia.
Sebelum kembali lagi ke Rooney Mara, mari kita melihat dulu filmnya. Kalau mau jujur Ini sebenarnya bukan remake dari film berjudul sama produksi Swedia yang juga meledak di 2009 lalu dan memberikan Noomi Repace untuk berkarier di luar negaranya melainkan versi Fincher terhadap novelnya langsung, sama seperti yang pernah dilakukan Matt Reeves dengan Let Me In nya 2010 lalu. Jadi Fincher membuat segalanya dari bawah untuk menerjemahkan naskah yang sudah diadaptasi Steven Zaillian dalam usahanya menyajikan kisah gadis bertato naga ini sedekat mungkin dengan novelnya seperti tetap menggunakan Swedia yang dingin sebagai arena bermainnya, nama-nama karakter yang sama dari novelnya hingga unsur kekerasan dan seksual eksplisit yang sampai-sampai membuat film gagal tayang di Indonesia. Ya, dengan menghadirkan segala gambar-gambar mengerikan itu Fincher jelas tidak pernah bermaksud membuat The Girl with the Dragon Tattoo versinya sebagai tontonan thriller PG-13.


Dan tidak dipungkiri lagi novel Stieg Larsson ini punya semua elemen-elemen favorit Fincher; pembunuhan, penyelidikan ala detekfif, teka teki sampai tema bilbical, sedikit banyak mengingatkan saya pada Se7en atau Zodiac, jadi apa yang akan anda temukan dalam 158 menit ke depan adalah upgrade dari versi Swedianya yang dikemas lebih kelam plus kadar suspense tingkat tinggi seperti kebanyakan film Fincher yang didukung dengan kualitas teknis lebih baik termasuk opening ala franchise James Bond yang keren, sinematografi dan editing cemerlanga yang membuat kita seakan-akan mampu merasakan dinginnya Hedestad yang menusuk tulang itu, tidak ketinggalan lantunan musik latar mencekam dari Trent Reznor dan Atticus Ross yang sanggup menaikan tensi setiap momen di dalamnya menjadi lebih tinggi. Di sisi lain naskah Zaillian juga mampu mengekslporasi lebih jauh cerita novelnya yang tidak pernah disentuh oleh Niels Arden Oplev (Sutradara versi Swedia) sekalipun seperti kedekatan Miakel dengan keluarganya atau bagaimana awal ia dan Lisbeth bertemu, sayang di sini kita tidak akan menemukan masa lalu Lisbeth di sini karena Fincher dan Zaillian tampaknya ingin membuat pahlawan mereka itu semisterius mungkin.
Kembali ke Rooney Mara. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa karakter Lisbeth Salander menjadi salah satu faktor penting yang membuat The Girl with the Dragon Tattoo semakin menarik selain kisahnya sendiri. Tentu saja sebelumnya saya sempat skeptis bahwa Mara dengan perubahan fisik yang ekstrim itu mampu menandingi kharisma Noomi Repace sebagai hacker perempuan biseksual cerdas dan anti sosial, tapi rupanya saya salah, Mara mampu melakukan tugas sulit yang dipercayakan kepadanya yang bahkan tidak mampu dilakukan oleh aktris-aktris lain yang sempat di audisi Fincher macam Carey Mulligan, Ellen Page, Kristen Stewart, Natalie Portman, Mia Wasikowska, Keira Knightley, Anne Hathaway, Emily Browning, Eva Green, Scarlett Johansson, Emma Watson sampai Evan Rachel Wood dengan luar biasa. Ya, Mara mampu keluar dari bayang-bayang Noomi Repace tidak hanya mampu menghadirkan karakter Lisbeth versinya sendiri secara fisik lengkap dengan segala tato, dandanan ala punk-gothic dan potongan rambut menggelikan namun juga ada jiwa yang penuh amarah akibat masa lalu kelam di baliknya yang mampu ditampilkan Mara dengan solid dan saya masih belum menyebut adegan-adegan berani yang di pertunjukannya di sini. Jelas ini bukan sebuah pengorbanan yang sia-sia buat Mara, lihat, Oscar bahkan mengganjarnya dengan nominasi sebagai artis utama terbaik tahun ini.
Lagi-lagi sebuah adaptasi luar biasa dari seorang David Fincher. Lebih bagus dan lebih mencekam dari versi Swedianya tanpa harus banyak mengkhianati novelnya. Dan siapa yang menyangka jika Rooney Mara mampu tampil sebaik ini sebelumnya. Sebuah thriller cerdas dan berani, salah satu yang terbaik dari David Fincher, sayang Oscar tahun ini tidak meliriknya.
Rating: 








Movienthusiast Blogging and Discuss About Movies

karena udah lebih dulu nonton trilogi Swedish nya jadi berasa kurang unsur kejutnya bos…. menurut saya malah di bawah kualitas Se7en atau Zodiac
tp editing, score dan beberapa pembuangan subplot tdk perlu plus ending yg agak beda, boleh lah
kalau membandingkan dua film dari sumber yang sama ya jgn di liat ceritanya, pasti sama lah dan tidak mengejutkan lagi, tapi coba diliat dari sisi teknisnya dan bagaimana presentasinya, sudah jelas lebih bagus yang punya fincher
Senangnya akhirnya ketemu orang yg nganggep Fincher punya lebih bagus. Entah knp banyak yg bersikukuh kalo ini adalah remake, pdhl ini adaptasi langsung dari buku itu sendiri. Sisi teknis, jelas versi fincher JAUH lebih baik dari versi Swedia. Kalo dari segi cerita, yup, seperti yg om blg di comment atas, jangan bandingin dua film yang sama dan terlalu terpaku di adaptasi pendahulu, jelas ceritanya sama. Bukannya mau ngejadiin semua film fincher jd favorit saya, tp Dragon Tattoo ini jelas bagus bgt, lebih ‘dag dig dug’ dibanding versi swedia… Kalo ngomongin Mara vs Rapace, kata saya sih equal ah, sama2 bagusnya, dan yg ngomong Mara overrated mungkin harus stop ngebanding2in sama versi Swedia, apalagi kalo blm lengkap ngebaca bukunya sbg bahan perbandingan yg akurat.
yup! Mara punya style Lisbeth sendiri yang gak kalah sama Noomi, dua2nya keren dan total kok, sama sekali gak overatted buat saya. Dan Fincher memang masternya kalau ngebuat film2 bertema pembunuhan dan misteri yang gelap
film yang layak untuk ditonton, terutama karena peran hacker wanita yang nyleneh dan cerdas !!
IMHO, dua versi film bagus dengan cara berbeda; film Swedia-nya cara bertuturnya sangat ‘novel’ jadi kalau kita nonton filmnya sambil pegang bukunya, gak perlu tu bolak balik cari halaman, karena urutannya sama. Sementara Fincher lebih efisien dalam penceritaan, yang menurut dia kurang signifikan kontribusinya ke cerita nggak perlu divisualisasi di filmnya. Lebih fokus dan mudah diikuti.Malah sampei ending di bukunya pun disimplify (walaupun tidak merusak cerita sama sekali)
Yang menurut saya agak lucu adalah penggambaran Eropa oleh orang Eropa dan oleh Hollywood yang berbeda. Di versi Swedia, kota Hedestad digambarkan seperti kota kecil pada umumnya dengan gedung tua tapi tidak elegan, sementara di versi Fincher kota yang sama diberikan visual gedung-gedung tua a la Eropa yang elegan dan klasik. Jadi penasaran yang bener yang mana. *buka google earth*
Tentang Rooney Mara (it’s Rooney btw bukan Ronney hehe) vs Noomi Rapace, saya belum memutuskan tapi secara fisik Rooney Mara memang lebih ‘melas’ dan cocok seperti yang digambarkan di buku, tampak tidak threatening dan seperti anak laki2 belasan tahun.
Ternyata saya kurang kerjaan dan jadi tahu kalau Hedestad itu kota fiksi belaka yang kabarnya digambarkan seperti kota asal Stieg Larsson, Gnesta di Swedia. Kalau saya lihat street view-nya, versi Swedia ternyata lebih mendekati (ya, saya memang kurang kerjaan, maap
)
Great Movie…
Freakin’ Awesome Movie