
Happy New Year! Ah, akhirnya kita sampai juga di tahun yang baru, tentu saja banyak hal yang terjadi selama tahun 2011 lalu, salah satu tahun yang luar biasa bagi dunia perfilman karena banyak ditandai dengan kemuculan film-film bagus, memang tidak semua memang bisa hadir di bioskop tanah air, khususnya film luar karena permasalah pajak impor yang mendera hingga pertengahan tahun lalu dan membuat pasokan film-film Hollywood yang tergabung dalam MPAA tersendat, tapi toh banyak jalan menuju Roma, selalu ada cara lain untuk menonton film bagus, tidak harus lewat layar bioskop, tidak harus melulu menonton film produksi studio-studio besar Holywood karena banyak juga film ‘kecil’ lain yang juga tidak kalah bagusnya seperti beberapa diantaranya yang sudah kami rangkum dalam daftar film-film terbaik 2011 versi kami, sekali lagi ini versi kami, jika film favorit anda tidak ada di sini, bukan berarti tidak bagus, mungkin kami belum sempat menontonnya
. Enjoy!
PS: Klik gambar untuk melihat ulasan penuh
Naskah juara dari Will Reiser dan Joseph Gordon-Levitt adalah bintang di sini yang mampu melebur sempurna dalam penyutradaraan apik dari Jonathan Levine membuat 50/50 tidak hanya sukses membuat anda tertawa dengan joke-joke gelap-segarnya, kisah persahabatan dan sedikit romansanya. Ya, tidak selamanya film tentang penderita kanker itu harus berakhir menjadi sebuah melodrama cengeng.
Temanya boleh saja terlihat berat, tapi siapa yang menyangka bahwa ia ternyata mmapu menjadi suguhan drama begitu mudah ringan untuk dinikmati. Sebuah feel good movie inspirasional dan juga menghibur tentang perjuangan para pembantu rumah tangga kulit hitam dalam usaha mereka memperoleh kesetaraan hak yang diisi dengan dukungan ensemble cast wanita paling mengesankan tahun ini.
Aktis terbaik, sutradara terbaik dan film Indonesia terbaik, ya, tiga piala Citra itu tampaknya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan bagaimana kedahsayatan Sang Penari, sebuah romansa berlatar belakang sejarah kelam Indonesia dan budaya Rongeng kental yang mengetarkan plus dukungan teknis yang nyaris sempurna.
MAAF, ARTIKEL INI SEDANG DALAM PROSES UPDATE!!!

Sebuah romansa pahit-manis dengan rasa indie kental yang berbalut narasi sederhana tentang kekuatan cinta. Menjadi menarik dan emosional ketika Drake Doremus membungkusnya dengan segala kesederhanaan bercerita, pemilihan sudut-sudut kamera yang cantik termasuk memaksimalkan akting dua pemeran utamanya, khususnya Felicity Jones yang tampil luar biasa.

Sudah lama tidak melihat film tentang baseball yang bagus, dan Moneyball menjawab kekosongan itu dengan menghadirkan sebuah biopik hebat dan berkesan. Tidak perlu menjadi fans baseball untuk dapat menikmatinya, biarkan naskah Zaillian-Sorkin dan penyutradaraan Bennett Miller mengajari anda, yah, siapa tahu saja anda bisa mulai menyukainya dari sini, apalagi ada Brad Pitt yang tampil fantastis disini sebagai seorang GM karismastik.

Lagi-lagi sebuah adaptasi luar biasa dari seorang David Fincher. Lebih bagus dan lebih mencekam dari versi Swedianya tanpa harus banyak mengkhianati novelnya. Dan siapa yang menyangka jika Rooney Mara mampu tampil sebaik ini sebelumnya. Sebuah thriller cerdas dan berani, salah satu yang terbaik dari David Fincher, sayang Oscar tahun ini tidak meliriknya.

Jarang menemukan komedi semenarik dan seunik ini. Carnage tidak butuh adegan-adegan slapstik super konyol dan jorok untuk dapat membuat penontonnya terus tersenyum bahkan tertawa lepas di sepanjang film. Ia memiliki lokasi yang terbatas, premis sederhana dan bahkan hanya diisi 4 karakter di nyaris 95% durasinya, tapi semua elemennya simpelnya itu rupanya mampu dimaksimalkan Polanski dengan sangat baik untuk menjadikannya sebuah komedi hitam yang cerdas dan juga sangat menyenangkan untuk ditonton.

Sebuah drama keluarga, thriller psikologis atau film tentang kiamat? Tidak ada yang bisa memastikannya sampai kamu benar-benar berada di ujungnya. Ya, ini sebuah film indie hebat dari sutradara muda visioner yang berani dan cerdas dalam mengabungkan berbagai tema provokatif menjadi sebuah kesatuan sempurna plus penampilan mengkilap dari Michael Shannon menjadikan Take Shelter sebagai salah satu drama terbaik 2011 lalu.

Midnight in Paris adalah surat cinta dari seorang Woody Allen untuk Paris, sebuah romcom ringan nan mempesona yang mengusung tema fantasi tentang perjalanan ke masa lalu yang penuh nostalgia dan sentimentil serta pencarian jati diri seorang manusia dengan balutan humor-humor cerdas dan gambar-gambar cantik kota Paris yang berkilauan.
Warrior dengan segala pertarungannya yang keras, brutal dan kejam, sekejam tatapan sinis Tom Hardy disini ia tetap adalah sebuah drama olahraga-keluarga yang ‘lembut’ dan penuh emosi, tidak sedikit yang menyebutnya cengeng yang sanggup membuat penontonnya tenggelam dalam drama serta rangakaian momen adu jotosnya yang hebat, lihat endingnya yang luar biasa itu, hanya manusia yang tidak punya hati yang tidak tersentuh.
Ya, luar biasa memang karya Dardenne satu ini, di balik kesederhanaan permisnya mereka mampu menghadirkan sebuah narasi coming of age bocah 11 tahun yang hebat dengan teknis penyutradaraan gemilang dan performa hebat dari aktor ciliknya. Sebuah dongeng realistis dengan hati yang besar.
Melodrama scifi-horor cantik ala Pedro Almodóvar yang tidak ada duanya. Tidak ada jeritan dan kengerian berlebih yang tampak secara kasat mata, tapi ada sesuatu di dalamnya yang sanggup membuat penntonnya terkejut bahkan bergidik disaat sutradara berambut putih ini menyibak setiap misterinya dalam balutan peyutradaraan dan narasi kuat yang merambat pelan dengan elemen suspensenya disetiap menit. Awas, twistnya bisa ‘menampar’ keras anda.
Ya, siapa yang menyangka jika We Need to Talk About Kevin bisa menjadi tontonan ‘horor’ domestik yang begitu menakutkan dan begitu menyayat hati, khususnya bagi setiap orang tua atau juga bagi mereka yang berencana menjadi orang tua. Ramsey dengan cerdas menghadirkan kengerian tanpa wujud di setiap adegannya, bermain-main melalui imajinasi penontonnya melalui narasi tumpang tindih, aroma depresif kental dan performa hebat Tilda Swinton.

Debut penyutradaraan fantastis dari aktor watak inggris, Paddy Considine, menghasilkan sebuah drama depresi tentang manusia-manusia bermasalah yang menyesakan, penuh ledakan kemarahan dari Peter Mullan dan kehancuran jiwa Olivia Colman yang bermain sangat bagus hingga kemudian Considine menutupnya dengan sangat kegetiran yang manis.
Gaya film aksi 80 an termasuk soudntracknya yang keren dan penampilan sosok Ryan Gosling sebagai supir jagon nan misterius dengan jaket bercorak kalajengkingnya rupanya sanggup mempesona banyak penontonnya, padahal ia bukan tipe film aksi yang glamor dan meledak-ledak, sebaliknya, Nicolas Winding Refn membalutnya dengan teknis arthouse yang kental, sedikit lambat, minim dialog dan porsi kekerasan cukup tinggi. Adegan dalam lift itu adalah juaranya di sini.
Tidak terlalu berlebihan jika saya kemudian menyebut The Tree of Life adalah mahakarya agung, sebuah puisi bergerak dan perjalan spiritual dari seorang pujangga hebat bernama Terrence Malick yang dibalut dengan teknis sinematik nyaris sempurna. Ya, ini memang adalah sebuah drama arthouse berat dan sukar untuk dicerna, tapi seperti yang sudah pernah saya katakan, jangan berfikir terlalu keras untuk memahaminya, rasakan saja karena selama anda masih punya hati saya jamin tangan hanat Malick akan mampu menyentuh anda dari dalam dengan caranya yang tidak biasa itu
Hugo punya kualitas teknis luar biasa, tidak heran jika para juri Oscar kemudian memberinya 5 patung emas di departmen tersebut, tapi Hugo bukan hanya soal teknis dan visual yang hebat, Martin Scorsese sudah membuat sebuah drama keluarga berbalut sejarah sinema yang sangat manis dam mengesankan, sebuah tribute untuk dunia sinema yang sudah membesarkan namanya. Fantastis!
The Artist adalah sebuah homage sempurna untuk silent movie, sebuah sajian hangat penuh nostalgia manis dan senyuman. Menontonnya seperti sedang bertemu dan berpelukan erat dengan sahabat lama, dan sebuah ungkapan “Diam itu Emas” tampaknya sangat pas untuk menggambarkan kehebatan Hazanavicius, Durjadin dan The Artist.
Dibuka dan diakhir dengan luar biasa, itulah A Separation, sebuah drama tentang perpisahan dalam sebuah keluarga menengah Iran yang juga membahas arti lain dari nilai-nilai kejujuran yang mampu berjalan berdampingan dengan manisnya dengan elemen-elemen agama, moralitas, sosial bahkan court room drama sekalipun tanpa harus berat sebelah, tanpa terlihat overdramatis, Ya, semuanya itu disajikan dengan naskah dan penyutradaraan brilian oleh Asghar Farhadi
Saya mungkin bukan penggemar nomor satu dari balapan jet darat Formula One, atau khususnya Aryton Senna, tapi siapa yang mengria bahwa dokumenter garapan Asif Kapadia ini sungguh mampu memberikan sensasi luar biasa, membuat saya serasa begitu dekat dengan sosok pembalap legendaris asal Brasil itu, melihat bagaimana kehidupan dan kariernya melalui ratusan jam footage-footage dan narasi dari orang-orang terdekatnya yang diedit sempurna.





















waduh baru 10 doank nih dr list yg sdh d garap…
btw senna bukannya film 2010 yah ?
2011 kok rilis internasionalnya
The Perfect House?

ada apa dengan the perfect house?
Ko ga masuk? Kirain itu termasuk bkal termasuk jg.
ngga lah, filmnya biasa aja kok
penasaran ama a separation tp kuota abis buat donlot (malah curhat)
Real Steel, Rise of the planet of the apes kog gak masuk bro?
ah, film2 yang bagus tuh, tapi kurang berkesan buat saya