
Marilia: ” The things a madman’s love can do…”
Berikan Pedro Almodóvar tema kesukaannya, wanita dan transgender maka saya berani jamin sutradara Spanyol ini akan memukau anda dengan 1001 sajian melodrama hebat seperti yang sudah dilakukannya dalam karya-karya jeniusnya di tiga dekade ini. Dan dalam The Skin I Live In Almodóvar mencoba sedikit melakukan eksperimen dengan memasukan elemen sci-fi-horor klasik kedalamnya, Menghadirkan sosok dokter bedah ‘gila’ dengan masa lalu kelam dalam diri Robert Ledgard (Antonio Banderas) yang sudah enam tahun ini terobsesi melakukan percobaan ilegal pencangkokan kulit sintetis termuktahirnya terhadap perempuan cantik misterius bernama Vera Cruz (Elena Anaya) di kediamannya sendiri.
Premisnya mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah horor biasa, tapi sekali lagi ini Almodóvar, sutradara satu ini jelas tidak pernah membuat filmnya terlihat biasa-biasa saja. Seperti biasa, sangat mengasyikan melihat bagaimana Almodóvar menceritakan narasinya, dan kali ini ia mencoba menyelubungi cerita yang diadaptasi bebas dari novel Mygale nya Thierry Jonquet dengan misteri pekat nan kelam, imbanya tentu saja akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada awalnya, seperti siapa Vera? Apa yang dilakukannya dengan pakaian aneh itu? Mengapa Dokter Ledgard menyembunyikannya? Eksperimen apa yang sebenarnya dilakukannya?. Kemudian melalui gaya penyajian old scholl dengan alur maju mundur. meloncat loncat dari satu adegan ke adegan lain, sinematografi apik dari José Luis Alcaine plus dukungan musik latar mengerikan Alberto Iglesias, Almodóvar perlahan sedikit demi sedikit memberikan satu persatu kepingan puzzle untuk disusun penontonnya menjadi sebuah kisah yang untuh, termasuk dengan menghadirkan banyak metafora, erotisme kental dan sebuah twist hebat yang mungkin bisa saja membuat anda mual dalam perjalannya, twist yang semakin menebalkan bahwa The Skin I Live In memang adalah karya sejati dari seorang Pedro Almodóvar.
The Skin I Live In memang banyak bermain dalam ranah horor misteri dengan segala unsur suspense ala Alfred Hitchcock. Ada dokter ‘sinting’ dengan percobaan ‘gila’ nya, ada aksi balas dendam klasik, ada juga elemen body horror ala Cornberg lengkap dengan dukungan setting sebuah mansion besar sebagai lahan bermainnya, tapi ini juga sebuah melodrama seperti karya besar Almodóvar lainnya, sebuah opera sabun tentang tragedi, kegetiran, romansa dan sebuah kerinduan mendalam seorang manusia akan sosok yang dicintainya sampai-sampai membutakannya dengan bermain menjadi Tuhan akibat luka masa lalu. Mungkin yang sedikit disayangkan kali ini Almodóvar tidak menghadirkan jalinan emosi yang kelewat berarti seperti pada Volver atau All About My Mother, digantikan dengan porsi misteri, dendam dan tragedi yang begitu mendominasi disepanjang 117 menit.


The Skin I Live In menghadirkan performa solid dari dua pemain utamanya. Ada Antonio Banderas yang bermain gemilang, memaksanya untuk mengeluarkan segala kemampuan beraktingnya. Karakter Banderas jelas menarik, sebagai seorang dokter bedah jenius ia mencoba bersembunyi dalam kedok ilmu pengetahuan untuk memenuhi ambisi pribadinya, menentang segala hukum yang berlaku untuk membuat sosok wanita sempurna dari nol bagi kepentingannya sendiri, seperti yang dilakukan Dokter Frankenstein disaat ia terobesesi membuat monster ciptaannya. Sang ‘monster’ sendiri dibawakan oleh Elena Anaya dengan kencatikan dan keanggunanya yang luar biasa menjadikannya karakter wanita sempurna Almodóvar yang mampu membuat karakter Banderas bertekuk lutut sampai-sampai melupakan siapa sosok Vera sebenarnya yang begitu kompleks.
Saya bisa menyebut The Skin I Live In sebagai sebuah melodrama scifi-horor cantik ala Almodóvar yang tidak ada duanya. Tidak ada jeritan dan kengerian berlebih yang tampak secara kasat mata, tapi ada sesuatu didalamnya yang membuat saya terkejut dan bergidik disaat sutradara berambut putih ini mulai menyibak setiap misterinya dalam balutan peyutradaraan dan narasi kuat yang merambat pelan dengan elemen suspensenya disetiap menit. Ya, The Skin I Live In, semakin membuktikan bahwa seorang Pedro Almodóvar itu tahu benar soal wanita, termasuk di sini, disaat sosok lemah lembut itu digambarkan sebagai hukuman yang mengerikan. Rating: 















twist di tengah film yang bikin bener-bener nganga!