Review – Sang Penari (2011)

Nyai Kartareja: “Ronggeng itu bukan cuma perkara nari, tetapi juga urusan kasur, urusan dapur, urusan sumur”

Dukuh Paruk begitu sunyi saat itu, tidak ada lagi malam-malam ramai yang diisi bunyi gamelan, gendang dan sorak sorai warganya mengiringi tarian Ronggeng cantik yang menjadi daya tarik kampung kecil itu semenjak sebuah tragedi pahit menimpanya beberapa tahun lalu. Adalah Srintil (Prisia Nasution), perawan ayu yang terobsesi untuk mengisi ‘lowongan’ sebagai sang penari sembari menebus kesalahan masa lalu keluarganya. Begitu besarnya keinginannya menjadi penari Ronggeng sampai-sampai Srintil tidak mengindahkan larangan Rasus (Oka Antara), sahabatnya sejak kecil sekaligus pria paling dicintainya. Tentu saja Rasus punya seribu alasan untuk menolaknya, karena menurut adat yang berlaku dengan menjadi Ronggeng, Srintil akan ‘resmi’ menjadi milik masyarakat yang mampu membayar. Ya, anda boleh saja menyebut Srintil sebagai ‘pelacur’ tingkat tinggi, tapi bagi masyarakat pada era itu, Ronggeng adalah pekerjaan ‘suci’ yang bahkan mampu mendatangkan kesejahteraan bagi kampung miskin itu. Akibat perbedaan ideologi tersebut membuat Rasus dan Srintil harus berpisah, menjalani jalan mereka masing-masing sementara situasi politik dalam negeri mulai bergolak memberikan masalah baru yang membuat keduanya semakin jauh.

Ronggeng itu ternyata lebih kompleks dari sekedar seorang perempuan yang meliuk liukan tubuh molek mereka dengan indah, ya, saya harus berterima kasih pada Sang Penari karena memberikan wawasan baru tentang bagaimana tarian yang selama ini saya anggap hanya sekedar seni pertunjukan budaya daerah khas Jawa Tengah  itu ternyata punya sejarah dan adat istidat menarik yang mengiringi keberadaanya. Sang Penari memang bukan diangkat dari kisah nyata walaupun ia punya latar belakang sejarah yang menjadi latar waktu tempat berlangsung kisahnya, tapi menggabungkan tiga novel sekaligus (Surat Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala) dalam satu film jelas bukan pekerjaan mudah bagi sineas mana saja, dan sutradara muda asal Yogyakarta yang sebelumnya juga pernah menghadirkan Garuda Di Dadaku, Ifa Isfansyah bersama Salman Aristo dan Shanty sudah melakukan pekerjaan rumah mereka dengan luar biasa dalam menerjemahkan setiap halaman dari mahakarya  milik Ahmad Tohari itu dalam pita seluloid.

Ya, ada begitu banyak hal yang sepertinya ingin dihadirkan Isfansyah dalam waktu singkat (109 menit) seperti romansa tak sampai Rasus-Srintil yang dibawakan dengan kualitas akting dan chemistry jempolan oleh pendatang baru Prisia Nasution dan Okan Antara, budaya Ronggeng kontroversial dengan segala perpaduan seni dan  aksi sensualnya yang digarap berimbang serta tepat guna ketimbang terkesan vulgar,  sampai gejolak sosial politik era 60an yang juga menjadi salah satu sejarah kelam bangsa ini dengan momen puncak G 30 S PKI nya. Tentu saja seperti ‘penyakit’ kebanyakan adaptasi novel, tidak semua bisa dihadirkan maksimal dan sedetail novelnya, Sang Penari tampak begitu cepat ‘berlari’, adegan demi adegan seperti berloncatan untuk dapat memenuhi kuota novelnya bahkan tidak banyak tarian disini karena porsinya lebih banyak untuk masalah lain, untung saja ini hanya kelemahan kecil, setidaknya saya tidak sampai terganggu karena hal itu karena mampu ditutupi dengan teknis pengarapan yang harus saya akui nyaris sempurna. Ya, susah mencari kekurangan pada bagian ini karena Ifa Isfansyah mampu memolesnya dengan sangat baik, lihat setting Kampung Dukuh Paruk yang tergambar begitu meyakinkan, seakan-akan Isfansyah membawa kita kembali ke masa lalu, merasakan kembali aroma jadul yang menyegarkan itu, termasuk bagaimana kostum, set, make-up kusam dan penggunaan dialog Banyumas kental serta figuran-figuran yang bermain sama baiknya dengan karakter-karakter utama kita, semua itu kemudian masih dibungkus dalam balutan visual apik Yadi Sugandi , musik latar  ‘etnik’ dari duo  Aksan-Titi Sjuman yang mampu memperkuat setiap momen ‘magis’ didalamnya menjadi tontonan romansa yang cantik, tragis serta sarat dengan muatan sejarah, seni dan adat isitiadat yang mampu berjalan beriringan begitu manisnya, hingga endingnya yang mampu menyentuh jiwa itu.

Sang Penari itu adalah film Indonesia yang ‘sangat Indonesia’. Sudah lama rasanya tidak ada film dengan berlatar sejarah dan budaya yang digarap sebaik dan seserius ini. Sang Penari jelas punya segalanya untuk menjadikan dirinya sebagai film terbaik yang dimiliki Indonesia tahun ini, atau tidak berlebihan jika saya  menyebutnya sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.

 

Rating: ★★★★★★★★☆☆ 

Tentang Penulis

Hary Susanto Telah Menulis 287 artikel di Blog ini.

A Movienthusiast, movie reviewer, dvd collector, download geek, a -still trying to be good-husband and father from two great kids in the world

Leave a comment ?

11 Comments.

  1. “salah satu yang terbaik sepanjang masa”
    sebegitu bagusnya ya om,…..

  2. Saya suka sekali dengan trilogi novelnya, sayang rasanya harus disatukan jadi satu film saja.

  3. Aku masih muda loh om, tapi aku suka film ini!! Kereenn :) akting Oka & Prisa juga bagus,nempellah sama peran’a :D

  4. film yg telah sy nantikan sejak baca novelnya dr dulu pertama kali baca novelnya jaman smp, dan ternyata sangat berkualitas utk ukuran film Indonesia, cm ada 1 hal yg sgt disayangkan, durasi yg terlalu pendek, yg akhirnya mengorbankan karakter srintil dan rasus dr segi usia, klo bs ada perubahan aktor/aktris uutk memerankan srintil kecil dan dewasa, dan bg yg udah bc novelnya ngerasa nonton pilem ini kayak lari 200 mtr, tp ya sudahlah…ane tetep suka, smg menang FFI nanti… :razz:

    • ya, saya juga merasa terlalu pendek dan terburu-buru, tapi ya begitulah ‘penyakit’ adaptasi novel kebanyakan, gak semuanya bisa bisa ditampilkan sedetil novelnya, apalagi ini dari 3 novel yang dikompres jadi satu hanya dalam waktu 2 jam.

      • sbenernya kalo mau jujur dr 3 novel itu, cm 2 novel aj, novel trakhir, udah melenceng (*baca tdk sama*) jauh dgn skenario di film, dan bahasa buku/novel akhirnya memang lebih “kaya imajinasi” dr bahasa visual film…:D

  5. saya justru kecewa berat dengan film ini. sang penari ronggeng tanpa adegan tari ronggeng yang penuh dengan passion. adegan tari cuma ditampilkan sekelbat aja, kayak gak penting malah. akting prisia jadi nanggung. sayang banget. malahan, saya rasa, film lebih mengeksplore masalah seksual daripada tari ronggeng itu sendiri.

    • yup untuk bagian tarian yang kurang diekspos saya setuju, tapi harap dimaklumi karena si sutradara sepertinya ingin mengangkat banyak hal dalam satu film, jadi jelas harus mengorbankan beberapa bagian, sayangnya bagian tarian yang dikorbankannya, untuk masalah seks itu memang tidak lepas dari adat lama ronggeng, jadi ya wajar2 saja kalau banyak diekspos :)

Leave a Comment


[+] kaskus emoticons nartzco