
Frank Campana: ” Why are we here? Are we here to win this fight? You tell me, ’cause if we’re not, I’ll throw in the towel right now. We’ll get Tess and we will go home. You don’t knock him out, you lose the fight. Understand me? You don’t knock him out, you don’t have a home “
Takdir mempertemukan dua saudara kandung untuk betarung sampai ‘mati’ di sebuah turnamen bela diri internasional, wow! Apa yang bisa lebih dahysat dari ini dalam sebuah genre sport movie“? Ya, keduanya kakak-beradik ini memang sama-sama pejuang tangguh, di dalam maupun di luar ring. Di sudut merah ada Tommy Conlon (Tom Hardy), eks marinir temperamental dengan masa lalu yang suram. Ia pulang kampung untuk bertemu dengan mendapatkan pelahitan dari sang ayah,Paddy (Nick Nolte) yang ironisnya juga menjadi orang yang dibencinya. Sementar di sudut biru ada sang kakak, Brendan (Joel Edgerton), guru fisika populer, mantan petarung MMA (Mixed Material Arts) dan suami yang baik buat istrinya, Tess (Jennifer Morrison) serta kedua putrinya. Sayang ia bangkrut, membuatnya terancam kehilangan rumah dan mungkin saja keluarganya. Jadi baik Tommy dan Brenden punya kesamaan disini, keduanya merupakan korban dari masa lalu yang buruk dan keduanya juga akan berjuang habis-habisan untuk sesuatu yang mereka cintai.
Seperti The Figther, Warrior juga menghadirkan kombinasi menarik dari olahraga keras dan keluarga sebagai tema utamanya. Bedanya garapan Gavin O’Connor ini bukan diambil dari kisah nyata, ia juga menawarkan olahraga yang jauh lebih keras dan brutal ketimbang nominasi Oscar 2010 itu, masalahnya apakah Warrior bisa lebih bagus dari The Fighter? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Ya, karena Warrior punya konsep family relation yang lebih menarik sedikit mirip dengan aroma yang dihadirkan Pride and Glory, film terkahir O’connor, bahkan kalau mau jujur, Warrior juga mampu menghadirkan adegan pemungkas super emosional, mungkin terbaik yang pernah saya lihat di film-film sejenisnya. Tidak setiap hari kita bisa menemukan dua karakter saudara kandung baku hantam di atas ring dalam sebuah film. Dengan ide seperti ini O’connor secara tidak langsung sudah menghadirkan dilema luar biasa, tidak hanya bagi para karakter didalamnya, tapi juga saya dan mungkin sebagian besar penontonnya, karena pada akhirnya kita tidak bisa melihat jelas bagaimana akhirnya? Dan dengan melihat latar belakang yang membuat keduanya sampai nekat mengikuti turnamen berbahaya di satu jam pertamanya secara tidak langsung sudah membuat kita tentu saja tidak ingin sampai keduanya sampai kalah. Dan jika The Fighter punya trio maut Bale-Whalberg-Le0, Warrior juga punya Tom Hardy, Joel Edgerton dan Nick Nolte yang tampil prima. Akting Ketiganya mungkin tidak sampai menyentuh kualitas Oscar, tapi bagaimanapun mereka sudah menghadirkan performa luar biasa buat karakter masing-masing, seperti Tom Hardy yang sampai-sampai harus menaikan cukup drastis berat badan dan jumlah ototnya untuk menampilkan karkater Tommy yang keras dan dingin dengan menyakinkan, atau Nick Nolte sebagai kebagian peran sebagai ayah yang dihinggapi dengan rasa bersalah luar biasa terhadap keluarganya.


Tidak, karena Warrior tidak memiki kualitas naskah sebaik The Fighter. Meskipun tidak sampai parah, O’conner bisa dibilang kurang menggali terlalu dalam setiap permasalahan, membiarkannya mengambang tanpa penyelesaian yang jelas dan karkaternya juga tidak diberikan cukup kesempatan untuk bisa berkembang lebih jauh. Ya, setidaknya itu yang saya rasakan di paruh di sepanjang dua jam lebih durasinya. Untung saja O’conner tidak membiarkan Warrior menjadi tontonan drama olahraga membosankan dengan mengemasnya dalam presentasi yang menarik, mudah dicerna semua penonton, termasuk didalamnya menyelipkan beberapa adegan petarungan menarik di antara drama-dramanya hingga pada akhirnya penontonnya ‘dihajar’ telak dengan rentetan pertarungan brutal mixed martial arts ala Ultimate Fighting Championship (UFC) dari sekelompok pria bertato dengan otot-otot besar yang digarap spektakuler, termasuk momen pemungkasnya yang sanggup ‘memenangkan’ hati setiap penontonnya.
Warrior dengan segala pertarungannya yang keras, brutal dan kejam, sekejam tatapan Tom Hardy disini ia tetap adalah sebuah drama olahraga-keluarga yang ‘lembut’ dan emosional. Ya, tidak memiliki kualitas naskah yang juara memang, tapi membuat penontonnya sampai tenggelam dalam drama serta rangakaian momen adu jotosnya yang hebat dan terlebih lagi membuat kita lupa bahwa ia memiliki durasi yang tidak sebentar, Gavin O’Connor bisa dibilang sudah berhasil mengerjakan pekerjaannya dengan sangat baik. Salah satu yang terbaik tahun ini.
Rating: 














lumayan bnyak yg ngmngin film ini ya trnyata.
tapi sayang jg, film sebgus ini ga ditayangin sm 21.
wajar aja gak ditayangin ama 21, secara ini sebenarnya film ‘kecil’ dan mereka (pihak 21) gak nyangka kalau film ini bakalan keren
salah satu film yg saya tunggu2 sbelum nonton tom hardy di the dark knight rises kecewa bnget gk masuk 21
Salah satu film terbaik tahun ini menurut saya, best scenes nya emang adegan terakhir pertarungan kakak adik, sangat dramatis ditambah soundtrack yg Keren bgt.. perfect
tom hardy aktingnya kren banget di sini malah saya berharap dia masuk nominasi oscar walaupun kayaknya gak mungkin dan juga banyak moment yang keren dan malah bisa bikin nangis kreeen
emang agak sih susah kalau sampai masuk nominasi oscar, tp gw juga suka sih liat Hardy disini, laki banget!
saya gk suka ending’a..saya berharap sebalik’a..
berharap si Tommy menang gitu? kenapa?