
Preacher Green: ” If you can love your enemy, you already have victory “
Ada yang pernah berkata bahwa hidup itu tidak hanya sekedar hitam dan putih, tapi di Amerika Serikat, khususnya di Jackson, Mississippi pada era civil right sekitar tahun 60 an segalanya serba hitam atau putih. Ya, The Help akan menghadirkan banyak cerita soal nasib para pembantu rumah tangga kulit hitam pada era itu, salah satunya ada Aibileen Clark (Viola Davis), wanita paruh baya ini nyaris menghabiskan separuh hidupnya menjadi pembantu buat banyak keluarga kulit putih, merawat anak mereka seperti anaknya sendiri, memasak untuk mereka dan membersihkan rumah mereka setiap harinya mereka, sayang dedikasi mereka yang luar biasa itu tidak sebanding dengan upah terlebih perlakuan rasis yang mereka dapatkan, seperti yang terjadi pada sahabat Aibileen, Minny Jackson (Octavia Spencer) yang harus dipecat begitu saja karena kedapatan menggunakan toilet milik sang majikan. Tentu saja tidak semua kulit putih itu rasis, masih ada segelintir yang peduli dengan nasib para PRT kaum bewarna ini seperti seorang Eugenia “Skeeter” Phelan (Emma Stone) gadis muda yang bercita-cita menjadi jurnalis yang kemudian menuliskan kisah-kisah getir para ‘budak modern’ itu ke dalam sebuah buku.
Seperti novelnya yang laris manis itu, mungkin tidak ada yang pernah meyangka bahwa drama kecil yang hanya berbudget 25 juta Dollar itu mampu berbicara banyak musim panas ini sampai-sampai mampu meraup pendapatan fantastis, nyaris menyentuh 200 juta Dollar hanya untuk perederaannya di Amerika saja. Ya, The Help adalah summer movie yang langka karena ia jauh dari kesan glamor kebanyakan film-film rilisan musim panas yang sepertinya berlomba-lomba untuk menghadirkan segala kemeriahan spesial efek atau momen-momen aksi spektakulernya. Kekuatan The Help sendiri ada pada cerita, penyutradaraan dan akting yang hebat. Tate Taylor yang bertindak sebagai sutrdara sekaligus penulis naskahnya sepertinya tahu benar bagaimana menerjemahkan setiap lembar halaman dari novel milik sahabatnya itu menjadi sebuah sajian drama yang solid. Temanya boleh saja terlihat berat dan berani. Tema tentang rasisme dan perjuangan mendapatkan kesetaraan hak dengan setting pada periode dimana Klu Klux Klan masih merajalela menebar teror bagi kaum negro di Amerika sana. Walaupun bukan berdasarkan kejadian nyata The Help tetap sedikit banyak terinspirasi oleh apa yang terjadi pada era itu, bahkan beberapa peristiwa nyata macam penembakan Martin Luther King Jr. sampai pembunuhan Kennedy diselipkan di dalamnya untuk menegaskan bahwa apa yang terjadi dalam The Help memang ada pada masa itu. Tapi yang membuatnya menjadi menarik di sini adalah bagaimana Taylor membuatnya menjadi tontonan drama kemanusiaan yang ringan, menyentuh dan sangat enjoyable dengan memasukan humor menghibur plus sedikit kepedihan di dalamnya dalam takaran yang pas.


Bisa dibilang The Help adalah sebuah ‘feel good‘ drama yang bermain pada zona ‘aman’untuk konsumsi semua orang karena jujur saja tidak ada konflik yang sampai dibiarkan terlalu pelik disini atau adanya ketakutan berlebih, dan nyaris semua adegannya diisi dengan banyak perempuan-perempuan kulit putih kaya nan sombong yang memandang rendah banyak perempuan kulit hitam, meninggalkan karkakter prianya yang jumlahnya hanya segelintir sebagai pelengkap penderita. Secara garis besar Taylor membagi kisahnya dalam tiga plot besar, dimana setiap plotnya memiliki sub plot sub plot pendukung menarik yang mampu berjalan sejajar plot utamanya, seperti kisah Minny Jackson yang menemukan majikan baru baik hati dalam diri Celia Foote (Jessica Chastain) setelah lepas dari bos lamanya yang rasis, Hilly Holbrook (Bryce Dallas Howard) atau konflik Sketter dengan sang ibu yang baru saja memecat pembantu tua kesayangannya yang sudah merawatnya selama 2o tahun lebih. Ya, pada akhirnya ketiga plot utamanya itu mampu bersatu dengan sangat baik, menghadirkan sebuah keutuhan cerita yang heartwarming dan inspirasional walaupun untuk ukuran sebuah cerita fiksi The Help terkesan nanggung dalam menyelesaikan konfliknya, karena sesungguhnya tidak ada perubahan mencolok pada akhirnya dengan ada atau tidak buku yang ditulis Sketter.
The Help itu memiliki ensemble cast luar biasa bisa jadi ini adalah elemen yang paling kuat ketimbang naskahnya yang ‘santai’ itu. Nyaris semuanya pemainnya mampu menghadirkan akting prima, liat saja duo maut Viola Davis dan Octavia Spencer yang begitu hebat membawakan karakter para pembantu pemberani, sungguh membuat The Help begitu bernyawa, tidak ketinggalan Jessica Chanstain yang mempesona dan rapuh, atau si cantik Bryce Dallas Howard yang secara mengejutkan juga bisa tampil sangat menyebalkan, dan tentu saja Emma Stone yang hadir dalam penampilan yang terlihat lebih serius ketimbang film-filmnya sebelumnya walaupun harus diakui susah tampaknya menghilangkan imej ‘nakal’ nya itu di sini.
Bukan drama multiras dan perjuangan kemanusiaan terbaik yang pernah saya tonton, tetapi The Help tetap saja adalah tontonan bertema ‘berat’ yang mampu dikemas ringan, menghibur sekaligus menyentuh dan mampu menginspirasi semua orang tanpa harus kehilangan pesan mulia tentang keberanian dan kebaikan dalam diri setiap manusia, tidak peduli apa warna kulitnya atau status sosialnya, apalagi ia juga menawarkan parade akting yang luar biasa dari para pemain-pemain wanitanya.
Rating: 













I love this movie
apalagi pas scene Pie Minny yang dimakan oleh Hilly
itu adegan emang paling keren di sini
aku nonton film ini agak ngantuk
kok ngantuk, padahal dua jam lebih gak terasa loh kl gw
Dibibirnya Hilly itu apaan??
ada sesuatu??
sepertinya dampak habis makan pie coklat Minnie yang lezat itu