Movienthusiast: Best 150 of The Decade (2000-2009) Part 4

” Welcome to number 4

Oke, sepertinya kami tidak perlu terlalu banyak basa-basi, kami tau list ini cukup lama baru muncul sejak yang terkahir dan kami juga tahu bahwa ini masih belum ada separuh dari rencana daftar film-film terbaik versi kami. So, let’s cut the crap!. Jadi apa yang ada di episode ke-4 kali ini? Ada banyak film Eropa, sedikit film Jepang, dan beberapa film Hollywood yang memenuhi lanjutan list Best 150 of The Decade versi Movienthusiast. Selengkapnya, mari kita lihat.

Tidak banyak yang menyukai Dogtooth, karena film ini adalah sebuah tontonan yang akan membuatmu mengkerutkan dahi atas konsep ceritanya yang gila, sebuah tontonan yang menunjukan kemungkinan terburuk apabila ada orang tua yang terlalu kelewat melindungi anaknya dari kehidupan luar, di balik konsep gilanya itu film ini di bungkus dengan artistik dengan pace yang terjaga dari awal sampai akhir.

Tidak banyak horor Spanyol yang pernah kami tonton, tapi satu ini mungkin yang terbaik. Menggabungkan konsep keseraman sebuah rumah angker , perjuangan dan kehangatan  kasih sayang seorang ibu yang kehilangan putranya dengan sangat baik, menjadikan film yang berjudul asli El Orfanato ini tidak hanya menakutkan, namun juga menyentuh disaat bersmaan, terlebih jika anda sudah melihat endingnya yang luar biasa itu.

Persahabatan unik dari manusia-manusia yang kesepian didalamnya. Ada si kerdil, penjual snack keliling dan janda cantik yang semuanya sukses membawakan narasi komedi-drama yang meyenangkan, dalam, menyentuh sekaligus satir, menjadikannya sebuah film kecil yang mampu memberikan ‘efek samping’ begitu besar disaat selesai menontonnya.

Depresi yang cantik, begitulah saya menggambarkan Memory of Matsuko. Tetsuya Nakashima sudah berhasil membuat kami tesenyum pedih melihat bagaimana perjalanan hidup si cantik Matsuko yang malang dalam balutan gambar-gambar indah, sureal dan dipenuhi dengan warna-warni mencolok, sangat kontras dengan ceritanya yang murung.

United 93 memang bukan sebuah dokumentari, tapi bagaimana seorang Paul Greengrass mendramatisasi saat-saat terkahir penerbangan United 93 yang seperti diketahui menjadi salah satu bagian dari peristiwa teror mengerikan pada 11 September 2001 lalu itu mampu memberikan ‘efek kejut’ hebat pada siapa saja yang menontonnya. Ya, apa yang kira-kira terjadi dalam pesawat penumpang naas itu coba di reka ulang Greengrass hanya melalui transkrip pembicaraan telepon terakhir dari para penumpangnya dan juga wawancara dari keluarga korban, tidak sepenuhnya akurat memang, tapi bagaimanapun United 93 adalah film yang akan menghentak anda sampai akhir.

Kecantikan Malèna rupanya tidak hanya berhasil mempesona seisi penduduk kota kecil Sicily dan si kecil Renato namun kami yang menonton period drama plus comin of age yang digarap indah oleh Tornatore ini. Malèna bukan hanya bercerita soal  Belucci dengan segala elemen erotisnya atau bagaimana ia karaternya di cap sebagai perusak moral, namun ia juga memberikan kepada penontonnya  sebuah cerita sederhana tentang arti cinta sejati dari mata seorang bocah 13 tahun.

Jujur saja film ini membuat jatuh hati termasuk penulis artikel ini untuk bisa menikmati kehidupan era Rock & Roll 70 & 80an. Premis boleh sederhana namun penulisan cerita adalah nilai lebih dari film ini, Touring bersama band rock terkenal menjadi pengalaman yang mengasikan, menghibur, kocak, dan menyentuh serta di dukung oleh jajaran Cast yang apik membuat Almost Famous layak masuk list kami.

War Photografer adalah potret langsung dari sebuah profesionalitas  tingkat tinggi, dalam kasus ini sutradara Christian Frei menghadirkan sepak terjang  James Nachtwey, seorang jurnalis veteran yang sudah melanglang buana dalam usahanya mengabadikan gambar-gambar, tidak hanya melulu tentang perang dengan segala dampaknya, tapi juga gejolak politik, dan permasalahan sosial, seperti kemiskinan. Bagian paling menarik di sini tentu disaat Nachtwey mendatangi Indonesia dan melakukan pemotretan terhadap kemiskinan di Jakarta termasuk juga peristiwa poilitik disaat legsernya mantan Presiden Soeharto serta mendokumentasikan para pekerja belerang di Gunung Ijen, Jawa Timur.

Inglorious Basterds adalah bagaimana seorang Tarantino dengan ‘semena-mena’ telah menulis ulang sejarah dalam versinya sendiri. Bersetting pada era Nazi, sutradara nyentrik ini menghadirkan sebuah opus balas dendam penuh kekerasan tingkat tinggi yang dikemas menarik, ada kisah seorang gadis Yahudi, sepak terjang para Basterds yang dipimpin Brad Pitt dengan aksen konyolnya sampai penampilang gemilang si ‘Jew Hunter’, Christoph Waltz.

Berlatar perang saudara di sierra leone tahun 90an ketika kekayaan alam di gunakan untuk membiayai perang berdarah dan menghancurkan negara sendiri, sebuah film drama petualangan di tengah konflik yang mendebarkan sekaligus menyentuh, dan di dukung oleh dua pemeran utamanya Leonardo Dicaprio dan Djimon Honsou yang menampilkan performa kualitas Oscar.

Mahakarya Gus Van Sant satu ini memang luar biasa. Didominasi dengan minimnya dialog dan banyaknya pengunaan teknik long shot rumit yang setia mengikuti karakternya dari belakang untuk  kemudian menjadi ‘alat’ efektif untuk menceritakan sebuah kisah tragis nan mengerikan yang konon terinspirasi dari peristiwa nyata.

Dari sini semua bermula. Nolan sudah menjadikan Batman Begins tidak hanya menjadi reboot hebat dari salah satu  filmfranchise terbesar DC Comics, tapi juga tolak ukur baru bagi era superhero modern yang tidak lagi menjadikan para pahlawan-pahlawan super berkostum ketat itu konsumsi anak-anak. Ya, Batman Begins menghadirkan kisah kepahlawanan si Manusia Kelelawar yang begitu manusiaswi, begitu kelam dan begitu dahsyat tanpa harus kehilangan sentuhan komiknya.

Thriller Perancis ini punya narasi yang dibangun dengan kuat. Kami berani menjamin bahwa anda tidak akan menyangka bagaimana ia berakhir nanti dengan suguhan twist berlapis, tapi tetap saja melihat proses menuju ke ending menjadi bagian terbaik dimana sutradara Guillaume Carnet menghadirkan tensi ketegangan secara konsisten termasuk misteri-misteri menarik dari kasus pembunuhan didalamnya yang melibatkan seorang dokter.

Pembunuh bayaran + Kota Bruges yang mempesona bak kota dongeng, bisa jadi kombinasi yang ‘mematikan’ untuk debut layar lebar Martin McDonagh. Tone nya gelap, segelap kota medieval itu tapi menjadi lebih ‘ceria’ ketika Farrell and Gleeson menghadirkan bromance kuat dengan dialog-dialog jenaka plus kemunculan Fiennes di akhir cerita membuat komedi hitam satu ini semakin meriah saja.

Sheridan pernah mengatakan bahwa filmnya satu ini adalah karya personalnya karena diadaptasi langsung dari pengalaman hidupnya disaat ia merantau ke Amerika dari Irlandia. Ah, tampaknya In America bisa menjadi film personal buat siapa saja yang meyukai drama-drama kuat tentang keluarga dan bagaimana berdamai dengan masa lalu. Ya, ini semua tentang perjuangan hidup sekarang dan menatap masa depan yang lebih baik. Touching.

 

To be continued to part 5………………..

About Movienthusiast

7 comments

  1. wow, dari sekian judul film ini yang baru saya tonton cuma Batman Begins sama Inglourious Basterds aja, beberapa sering denger dan yang lainnya saya baru tau sekarang ini. :mrgreen:

  2. Picnya itu scene terkocak di Ing. Basterds :mrgreen:

  3. United 93, nyesek banget sampe scene akhir, walaupun udah ketahuan endingnya, tapi bagaimana detik2 perlawanan pilot yang berani melawan Tero,,,,,ckckck

  4. ini listnya gak dilanjutin ya?
    apa udah ada tp saya yg kelewat :D
    menanti nih :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top
shared on wplocker.com