Review – Dog Soldiers (2002)

Megan: ” Every month, when the moon is full, they hunt as a team “

Tiga tahun sebelum namanya melejit dengan kisah monster-monster ganas penghuni gua, ‘penggoda’ para wanita cantik yang sedang berlibur dalam The Descent, sutradara asal Inggris, Neil Marshall sudah memulai debutnya bersama Dog Soldiers, horor low budget yang mendapat banyak pujian dari para kritkus dan mencapai status sebagai cult horror. Ya, saya menyukai apa yang sudah dibuat Marshall disini,  konsepnya usang tapi menarik, tidak ada yang lebih menyenangkan ketika melihat para manusia-manusia serigala menemukan lawan mereka yang seimbang dalam diri tentara-tentara Inggris yang berada di tempat dan waktu yang salah.

Dibuka dengan lambat, Dog Soldiers mungkin tidak memulainya dengan cukup meyakinkan, terlalu banyak dialog-dialog tak penting nan membosankan di 20 menit pertama, akting yang pas-pasan bahkan ketika pemunculan perdana para werewolf pun terlihat seperti kebanyakan horor kelas B, lengkap dengan pergerakan kamera dan editingnya yang buruk. Nah, untung saja keadaan mulai membaik setalahnya, hanya mengadalkan setting di satu lokasi yakni sebuah rumah kecil di pedalaman yang jauh dari peradaban. Dari sini Marshall kemudian memulai aksinya, menjebak para tentara malang tersebut, termasuk didalamnya satu zoologist cantik , sementara di luar sudah menunggu para serigala jadi-jadian yang kemudian mulai meneror mereka sepanjang malam. Meskipun penyajiannya terlihat  murahan, tapi harus diakui Marshall mampu meramu setiap momen tegang didalamnya dengan cukup efektif. Memanfaatkan pencahayaan yang minim, kostum, make-up dan sedikit bantuan robot animatorik yang meyakinkan dan terkesan old school- mengingatkan saya pada Silver Bullet untuk menghadirkan sosok para manusia serigala, Marshall sudah sukses memberikan hiburan tersendiri pada penontonnya tidak ketinggalan elemen komedi yang diselipkan Marshall termasuk didalamnya referensi-referensi dari film-film terkenal macam The Evil Dead, Zulu, Aliens, The Matrix dan  Star Trek: The Wrath of Khan juga mampu memberikan poin lebih disini, dan saya belum menyebut twistnya di penghujung cerita, ya, cukup pintar walaupun tidak sampai terlalu mengejutkan.

Dog Soldiers sama sekali tidak buruk untuk sebuah karya debutan, malah Neil Marshall bisa dikatakan telah berhasil memodifikasi sub genre horor werewolf dengan sangat baik dan efektif, baik dari naskah maupun sisi teknisnya dengan sentuhan klasik-modern dan sedikit humor gelap untuk menjadikannya sebagai salah satu cult horor yang patut ditonton bagi setiap penggemar genre ini. Tidak sabar menunggu sekuelnya yang kabarnya akan hadir pada 2014 nanti, ya, masih cukup lama memang dan mudah-mudahan Marshall bisa membuatnya lebih baik lagi.

Rating: ★★★★★★★☆☆☆ 


About Movienthusiast

"Beri Komentar"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top