
” Evolution Becomes Revolution “
Lima film, satu remake, dua serial televisi dan buku-buku komik, jadi bagaimana caranya meneruskan salah satu saga fiksi ilmiah paling populer Hollywood berusia 4 dekade lebih satu ini? Jawabannya sama seperti yang sudah dilakukan oleh J.J Abrams atau Matthew Vaughn dengan Star Trek (2009) dan X-Men: First Class (2011), membuat prekuel sekaligus secara tidak langsung menjadikannya sebuah reboot halus. Ya, itulah yang kemudian juga dilakukan oleh para petinggi 20th Century Fox dalam rangka memperpanjang umur franchise Planet of the Apes mereka, dan ini bukan semata-mata untuk mengeruk lebih banyak Dollar, mereka tampaknya tidak pernah main-main untuk menjadikan Rise of the Planet of the Apes sebuah start awal yang luar biasa dari sebuah saga baru.
Rise of the Planet of the Apes membuka kisahnya jauh sebelum era para Astronot malang yang terdampar di sebuah planet asing yang dikuasai oleh primata-primata pintar dalam Planet of The Apes original (1968) maupun versi daur ulangnya (2001), dan karena ini juga adalah sebuah reboot anda juga bisa menghilangkan keberadaan dua film itu dan memulainya dari sini. Jadi mari kita bertemu Caesar (Andy Serkis). Ia adalah Simpanse cerdas yang berhasil diselamatkan oleh ilmuwan Will Rodman (James Franco) dari sebuah percobaan medis yang dianggap gagal. Tentu saja sebenarnya percobaan itu tidak pernah gagal, Caesar adalah bukti hidup. Simpanse kecil ini kemudian tumbuh menjadi spesies kera super unggul dengan kecerdasan yang berkembang fantastis bahkan mampu menyamai manusia. Dan berawal dari sebuah peristiwa tak terduga, Caesar terpaksa mengalami penderitaan yang secara tidak langsung menjadi awal sebuah revolusi besar-besaran yang berujung peperangan antara primata versus manusia.
Awalnya mungkin tidak pernah ada yang menganggap serius proyek Rise of the Planet of the Apes, bagi kebanyakan orang ini hanya akal-akalan 20th Century Fox untuk mempertebal isi dompet mereka dengan kembali membangunkan franchise lama mereka, apalagi mengingat versi remake-nya 10 tahun lalu yang ditangani oleh Tim Burton banyak mendapatkan kritikan tajam walaupun dari segi finasial sendiri cukup memuaskan, tapi semua pendapat miring itu kemudian berhasil dimentahkan disaat ratusan kera yang dipimpin oleh Rupert Wyatt ini berhasil ‘menampar’ telak para penontonnya Agustus lalu – Indonesia sendiri baru rilis September ini, menjadikannya sebuah suguhan fiksi ilmiah paling hebat tahun ini, bahkan perolehan box-office-nya sendiri pun berbanding lurus dengan kualitas yang dihadirkannya, impresif.


Rahasianya, selain pada penyutradaraan apik Wyatt, termasuk bagaimana ia berhasil mengeksekusi segala momen-momen hebat didalamnya dengan cepat dan efisien ada juga pada kualitas naskah menyegarkan dan padat-berisi yang ditulis oleh duo screenwriter-nya Rick Jaffa dan Amanda Silver. Ya, Wyatt tampaknya tahu benar bagaimana menerjemahkan naskahnya dengan sangat baik dan sefektif mungkin tanpa pernah mau membuang-buang waktunya dengan percuma pada adegan-adegan tidak perlu yang berpotensi merusak, seperti romansa antara Franco dan Pinto yang mampu diminimalisir semaksimal mungkin, meninggalkan kita pada konflik utama bagaimana jika manusia terlalu jauh bermain sebagai Tuhan termasuk didalamnya turut menjadi saksi berkembangnya karkater sentral, Caesar dalam usahanya mencari jati dirinya. Ya, Caesar layakanya nama besar yang diberikan kepadanya sanggup menjadi pusat gravitasi, segalanya bagi Rise of the Planet of the Apes. Ia tidak pernah berhenti mengejutkan kita sejak Rodman membawanya pulang dari laboratorium Gen-Sys. Tanpa dialog Caesar sukses ‘mengikat’ erat dirinya tidak hanya pada Franco dan John Lithgow yang berperan sebagai Charles Rodman, ayah Will tapi juga kepada setiap penontonnya, membuat kita seakan-akan terhipnotis di tempat duduk masing-masing untuk tidak pernah berhenti merasakan apa yang dialami Caesar, melihat setiap tingkah lakunya yang mengagumkan atau bagaimana cara berpikirnya yang tidak pernah terduga untuk ukuran seekor kera, dan kemudian menunggu kejutan-kejutan apa lagi yang akan dibuat Simpanse super pintar ini di menit-menit selanjutnya, hingga pada puncaknya yang mengetarkan ia kemudian memimpin sebuah revolusi besar-besaran yang digambarkan dengan dramatisasi tingkat tinggi melalui adegan-adegan invasi spektakuler yang sedikit banyak mengingatkan saya akan serangan besar-besaran mutant dalamX-Men: The Last Stand (2006) yang juga mengambil tempat di jembatan Golden Gate, San Fransisco, bedanya apa yang tersaji di sini efekenya 3x jauh lebih dahsyat ketimbang seri ketiga X-men itu. Trust me, anda harus meyaksikannya sendiri untuk membuktikan bahwa saya memang tidak berlebihan.
Caesar memang bintang besar disini, dan kita harus berterima kasih pada seorang Andy Serkis karenanya. Ya, setelah sebelumnya sukses menjadi Gollum dalam mega trilogi Lord of The Ring, Gorilla raksasa dalam King Kong yang keduanya kebetulan di besut oleh Peter Jackson, kini Serkins kembali membuktikan kepiawaiannya mengolah gerak tubuh primata lain dengan balutan efek motion capture yang spektakuler, bahkan kalau mau jujur karakter para primata CGI dari berbagai spesies itu seakan-akan membuat para aktor dan aktris manusianya yang hanya menjadi pemain pelengkap, lihat saja Freida Pinto salah satunya.
Rise of the Planet of the Apes kembali meneruskan tradisi hebat sebuah reboot. Di awal tahun siapa yang pernah menyangka bahwa ia mampu menjadi sebuah tontonan fiksi ilmiah seluar biasa ini. Penyutradaraan apik tanpa pernah menjadi terlalu berlebihan dan terlalu bertele-tele, naskah yang solid dan tepat sasaran serta performa hebat dari Andy Serkis dalam balutan Simpanse CGI juga tanpa melupakan elemen-elemen pendahulunya- dapatkah anda menemukan dimana Charlton Heston berada disini? menjadikan Rise of the Planet of the Apes memiliki semua apsek untuk membuatnya dapat dengan mudah untuk dicintai oleh penontonnya baik veteran dari saga Planet of the Apes atau penonton yang baru berkenalan dengannya. Sebuah awal yang menjanjikan untuk memulai sebuah franchise baru di masa yang akan datang. Bravo!
Rating: 
















woww.. 8.5/10. nilai yang tinggi banget dari seorang hapilopa. buat gw klimaksnya kurang begitu seru.. abisnya gw kirain dia mau take over the world gitu, eh gak taunya cuma mau mudik saja.. tp filmnya memang bagus sih hehehe.
ah, kurang seru gimana? si Ceaser emang gak pernah mau nguasain dunia, dia cuman pengen ngebebasin kaumnya aja, dan hidup damai doank secara dia tau posisinya sebagai kera. untuk masalah take over the world pada akhirnya kaum manusia musnah juga gara2 virus itu yang kemudian menjadi pembuka kisah Planet of The Apes – liat kan ada astronot yang pergi ke luar angkasa? nah itu kan ntar jadi manusia-manusia tersisa di Planet of the Apes cuy
gw kirain bakalan kejadian kayak planet of the apes bakalan banyak korban gila2an gitu.. makanya jadi berasa kurang seru.. aye udah lupa planet of the apes, maklum waktu itu kan masih kecil (sok muda), makanya cuma inget inti ceritanya aja..
muda?!! emang 2001 umur berapa sih?
kalo yang mimpin bukan Caesar tapi si Koba gw percaya tuh banyak manusia yang jadi korban, Ceasar masih punya hati. denger si Caesar ngomong ‘Noooo’ itu buat satu studio terdiam, LOL
“…Caesar dalam usahanya mencari jati dirinya.”
–
Film ini memberi hikmah ontologi juga bagi saya yang mudah2an ada kesempatan untuk menontonnya.
*FILSAFAT Mode is ON.
:-p
besok sudah maen regular, wajib hukumnya nonton nih film, gak bisa nggak
Udah muter di 21 ?
udah, mulai hari ini
nice review gan, cuman ma’af banget, agak annoying bacanya pada kata “ceasar”. Udah ane cek imdb & wiki di situ ditulis “Caesar”. Mending diedit gan, pakai notepad pencet “Ctrl+H”, anyway top review gan :-bd
ha ha ha, iya gan, my bad, udah ane edit tuh, trims berat loh koreksinya
lucu juga d pertengahan cerita mengingatkan indonesia sblum merdeka.. simpansex pke besi runcing..! ntar lw yg k2 pke santet kali gan..!! heheh
Tadi saya baru nonton film ini.
Dan ternyata saya tak salah pilih untuk menonton film ini, sebanding lah dengan mahalnya tiket bioskop akhir pekan.
AMAZING!
(saya salah ngasi komentar, malah di film X Men First Class
)
Lol, ternyata salah komen toh
Overall, filmnya bagus dan menghibur. Nggak ada jeda buat saya untuk ‘mikir’ dan bosan. Dan film ini berhasil membuat saya takjub akan beberapa hal, diantaranya bahwa ternyata bbrp kelakukan hewan itu sama kayak manusia, (lihat adegan Caesar di-bully penghuni lama karena dia anak baru), ng, atau manusia yg kehewan-hewanan? Hehehe.
Film ini juga seperti sebagai reminder: kalau manusia harus selalu respek sama binatang.
dan jangan lupa manusia gak boleh ‘bermain’ jadi Tuhan
filmnya emang oke, tapi jadi parno kalo ngeliat kera, monyet, simpanse dan sejenis.. btw itu ada orang utan asal indonesia kan yg gondrong2.. haha
yup, orangutan, spesies produksi lokal
udah nonton bang, ni filmnya para villain blockbuster ya
, james franco (green goblin), andy serkis (gollum) dan tom felton (draco malvoy)…sependapat sama abang, tadi underexpect, ternyata wow…manteb, battle di golden gate (padahl cuman pengen liwat) epic!