
Erik Lehnsherr: “Tomorrow, mankind will know that mutants exist. They will fear us, and that fear will turn to hatred “
Selalu ada jalan untuk memperpanjang umur kesuksesan sebuah franchise, tanyakan saja pada Hollywood, mereka punya 1001 cara untuk melakukannya, terutama jika wara laba itu sekuat X-men, salah satu adapatasi dari komik supehero laris yang memiliki memiliki basis penggemar luar biasa di seluruh dunia dan disisi lain juga terbukti sukses menebalkan isi dompet para orang-orang yang terlibat didalamnya, apalagi kisah X-men dengan bertabur karakter hebat didalamnya memiliki potensi bagus untuk dikembangkan lebih jauh. Maka hanya dengan sebuah trilogi (X-men. X2: X-Men United, X-men: The Last Stand (2000-2006)) plus satu buah spin off (X-Men Origins: Wolverine (2009)) saja sepertinya masih tidak cukup memuaskan para petinggi 20th Century Fox dan Marvel Studio. Dan belajar dari ‘kegagalan’ X-Men Origins: Wolverine, maka alih-alih memilih salah satu dari puluhan mutant untuk dibuat kisahnya sendiri, mereka memutuskan ‘melanjutkan’ rangkaian rekaan Stan Lee dan Jack Kirby nya dalam sebuah prekuel yang juga menjadi sebuah reboot halus.
Sebagai prekuel, X-Men: First Class akan menarik kisahnya puluhan tahun ke kebelakang dari tiga pradesesornya, tepatnya mengambil seting pada tahun 60an di era perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika dengan segala konflik nuklirnya. Fokusnya tentu saja kepada dua karakter utama kita, calon pendiri dua kubu besar mutan dimasa depan, X-men dan Brotherhood of The Mutants, Dr. Charles Xavier (James McAvoy) dan Erik Lensherr (Michael Fassbender) disaat mereka muda, masih bersahabat dan saling bahu membahu mencegah ambisi pimpinan Hellfire Club, mantan nazi, mentor Erik Lensherr dan juga seorang mutan kejam dengan kemampuan luar biasa, Sebastian Shaw (Kevin Bacon) dalam usahanya untuk memicu perang dunia ke 3.
Akhirnya, setelah The Last Stand yang mengecewakan dan Wolverine yang teruk itu, Matthew Vaughn membawa para mutant Marvel ini kembali lagi ke jalan yang benar. Begitu banyak kesenangan yang bisa saya dapati dalam reboot franchise terbaik setelah Star Trek milik J.J Abrams 2009 lalu, sebut saja Rose Byrne dengan lingerie-nya, Kevin Bacon menjadi mutan nazi, seting klasik-modern era Kennedy, krisis misil Kuba yang mengingatkan saya pada film-film Bond era itu lengkap dengan kehadiran kapal selamnya, kemuculan mutant-mutant ‘baru’ dan kemegahan spesial efeknya yang memanjakan mata, tapi tetap saja saja pada akhirnya hidangan utama yang ditawarkan First Class adalah kisahnya itu sendiri. Sebuah kisah kelam dari naskah yang diadaptasi dengan cerdas oleh trio screenwriternya dari cerita milik Bryan Singer, kisah tentang bagaimana awal mulanya dua tokoh penting dunia X-men bertemu, menjalin persahabatan, hingga kemudian harus berpisah jalan karena berseberangan ideologi, menjadikan mereka Professor X dan Magneto seperti yang kini kita ketahui bersama, seteru abadi. Jadi tidak lagi ada Logan a.k.a Wolverine yang ditiga film pertamanya kerap kali mengambil porsi besar cerita, sebaliknya mutant bercambang itu hanya dijadikan cameo disini.


Memang skema ‘kawan jadi lawan’ mungkin bukan sesutu yang baru lagi di dunia per-superhero-an, ada Peter Parker dan Harry Osborn serta Clark Kent dan Lex Luthor yang sudah memulainya terlebih dahulu, namun bagaimana kedua karakter bertolak belakang disini ‘lahir’, berkembang, berinteraksi dan saling merubah kepribadian masing-masing lah yang kemudian membuat kisah First Class menjadi terasa lebih berat dan lebih manusiawi dari para pendahulunya. Apalagi faktanya duet McAvoy dan Fassbender sukses membawakan karakternya mereka masing-masing dalam takaran yang pas serta chemistry kuat, memberikan nuansa baru pada karakter Charles Xavier dan Erik Lensherr muda dengan segala gejolak dan idealisme mereka masing-masing.
Disisi lain jajaran supporting cast-nya yang nyaris sebagaian besar disini para aktor dan aktris muda juga tidak mau kalah unjuk gigi. Tentu saja Kevin Bacon yang paling menonjol dengan segala kelicikan dan kekejamannya sebagai Sebastian Shaw, orang yang paling bertangung jawab atas lahirnya sosok besar ‘Magneto’, penampilannya sebagai main villian itu sudah sedikit banyak menutupi kekurangan ketiga anak buahnya, si iblis Azazel (Jason Flemyng) dengan kemampuan teleportnya, Riptide (Álex González) pembuat tornado yang mengecewakan termasuk karakter Emma Frost yang seharunya bisa lebih dimaksimalkan lagi oleh January Jones. Porsi lebih juga diberikan kepada Jenifer Lawrance yang membawakan Raven muda, atau biasa kita kenal dengan julukan Mystique dengan baik, ada juga perubahan karakter menarik dari Nicholas Hoult dalam prosesnya menjadi monster biru, Beast. Celeb Landry Jones memberikan humor pada Banshee, Zoe Kravitz yang sedikit memaksa sebagai Angel dan masih ada Havoc (Lucas Till) yang mengingatkan saya pada karakter Cyclops, Darwin, karater yang sebenarnya menarik, sayang porsinya kelewat sedikit dan last but not least ada si cantik Rose Byrne sebagai agen CIA, Moira MacTaggert sekaligus love interest Charles Xavier.
Lewat X-Men: First Class semakin membuktikan bahwa Matthew Vaughn dan komik sepertinya adalah pasangan serasi. Walaupun secara keseluruhan kualitasnya masih berada di bawah X2, tapi jelas Vaughn telah membayar tuntas kepercayaan yang diberikan Bryan Singer kepadanya. Ya, ini adalah sebuah sebuah reboot hebat, sebuah prekuel luar biasa, sebuah sugguhan summer movie ‘first class’ dengan segala kemeriah spesial efeknya, komposisi cast apik dan yang paling penting X-Men: First Class sudah siap memulai saga X-men yang baru. Jadi ingin tahu kenapa Professor X harus duduk di kursi roda? Darimana Magneto medapatkan helmnya? Bagaimana konsep awal Cerebro? Bagaimana lahirnya sosok Beast? atau kenapa Mystique sampai mau mengikuti Magneto? Tonton saja salah satu summer movie terkeren tahun ini.
Rating: 
















sebuah film dengan kualitas first class
setujuhhh! film x-men mantapsss!!!
iya ini film lebih bagus dari Last Stand sama Wolverine.
tapi kok si Raven aka Mystique wujud aslinya di First Class rambutnya warna pirang, tapi di Last Stand rambutnya warna hitam.. hmm..
Kayaknya cantikan yg di Last Stand, tapi sayang cuma sebentar keliatan wujud aslinya, eh tapi gpp deh yg di Last Stand kan wujud aslinya keliatan telanjang bulet..
Tadi saya baru nonton film ini.
Dan ternyata saya tak salah pilih untuk menonton film ini, sebanding lah dengan mahalnya tiket bioskop akhir pekan.
AMAZING!
wah nonton di mana bro? secara di Indo masih belon tayang nih