
Mrs. O’Brien: ” The nuns taught us there were two ways through life – the way of nature and the way of grace. You have to choose which one you’ll follow “
“Film yang aneh”, Ya, tidak terlalu mengherankan jika sebagian penontonnya berucap demikian sesaat setelah lampu bioskop menyala, atau jauh sebelum film ini berakhir, bahkan tidak jarang diantara mereka ada yang merasa telah rugi sudah membuang waktu dan uang mereka menonton sebuah film ‘Brad Pitt’ yang ternyata isinya malah membingungkan, membuat mereka tampak bodoh atau sampai-sampai malah membuat tertidur pulas. Tapi tunggu dulu, ini bukan film ‘Brad Pitt’ atau “Sean Penn’, meskipun ada dua nama besar Hollywood itu terpampang besar di posternya, ini film ambiusius dari Terrence Malick, dan jika anda belum mengenal sutradara arthouse hebat satu ini, maka saya tidak pernah menyalahkan jika anda termasuk salah satu penonton walk out atau yang mengerutu di sepanjang 2 jam durasinya.
Tentu saja seperti semua karya Malick lainnya, The Tree of Life juga tidak begitu saja mudah untuk ‘dikunyah’ setiap penontonnya, dan saya percaya mereka yang mengaku bisa menangkap semua simbol-simbol spiritual tentang keberadaan Tuhan dan segala pesan tentang kehidupan yang ingin disampaikan Malick disini hanya dengan sekali menontonnya atau tanpa kemudian mengubek-ubek google adalah kebohongan besar. Ya, sebagai sutradara dan penulis naskah mungkin hanya Malick yang mengerti semua isi perut dari The Tree of Life, tapi bukan berarati anda sebagai penonton awam tidak bisa turut memahaminya. Saya tahu ini adalah sebuah film filosofis, eksperimental yang berat dan rumit, syarat untuk menikmatinya sebenarnya mudah saja, jangan berpikir, buang logika anda, pasrahkan diri anda, biarkan Malick mengandeng tangan anda dan membawa anda ke dalam sebuah perjalan kosmik luar biasa, sebuah perjalanan sinematik spektakuler yang mungkin hanya bisa ditandingi oleh 2001: A Space Odyssey-nya Stanley Kubrick- kebetulan Malick juga mempercayakan spesial efek kepada Douglas Turnbull yang pernah menangi efek sci-fi legendaris itu. Dan jika dalam 2001: A Space Odyssey Kubrick menghadirkan visinya dari jaman Kera hingga jauh ke masa depan, Malick sebaliknya, memulainya sangat, sangat jauh kebelakang, di awal terciptanya alam semesta…….
Sesungguhnya The Tree of Life memiliki kisah yang sederhana, jauh lebih sederhana dari kisah Depresi hebat dalam Days of Heaven, kisah para tentara perang dunia II di The Thin Red Line atau The New World dengan romansa penemuan benua barunya. Tapi bukan Malick namanya jika ia tidak mampu meramu sesuatu yang sederhana menjadi lebih rumit dan terasa lebih panjang, bahkan sebagian orang menganggap terlalu panjang dan membosankan. Ada Jack (Sean Penn), pria paruh banya ini mengenang kembali masa kecilnya saat ia tinggal di Texas pada dekade 50′an sebagai seorang bocah, putra pertama dari pasangan tuan dan nyonya O’Brien (Brad Pitt & Jessica Chastain) beserta dua saudara laki-lakinya yang kemudian disajikan Malick melalui fragmen-fragmen kehidupan.


Awalnya The Tree of Life memang terlihat seperti sebuah drama normal kebanyakan- kecuali visualnya yang tidak biasa. Malick membuka kisahnya dengan menghadirkan nyonya O’ Brien yang menerima kabar kematian putra keduanya, dan ketika wanita malang yang dilanda kesedihan luar biasa ini mulai bertanya “Kenapa?” dan “Kemana saja Kau (Tuhan)?”, Malick langsung memulai pertunjukan utamanya. Dari titik ini film peraih penghargaan tertinggi, Palme d’O dalam ajang Cannes 2011 membawa kita ke dalam sebuah flash back, eits, bukan sebarang flash back karena inilah puncak dari The Three of Life, dan tidak tangung-tangung, dalam rangka menjawab pertanyaan nyonya O’Brien atau mungkin mewakili pertanyaan dari kebanyakan manusia lain Malick kemudian mengajak kita ke awal semuanya bermula, awal dimana alam semesta terbentuk, seperti ingin menjawab “disini loh, sejak awal Saya sudah ada dan memulai segalanya” melalui rangkaian gambar-gambar super cantik yang mengetarkan. Malick memperlihatkan bagaimana terbentuknya bumi dari debu, gas dan cahaya, sel-sel memulai awal organisme, ubur-ubur yang berenang indah, termasuk kemunculan para Dinosaurus hingga tabrakan meteor yang kemudian berlanjut dengan kelahiran sosok bayi Jack yang kehidupannya kedepan seakan-akan mewakili ranting kecil, bagian dari pohon kehidupan yang maha besar. Ya, semua gambar-gambar itu disajikan dengan detil yang luar biasa oleh sinematografer handal Emmanuel Lubezki yang kembali ditunjuk Malick paska The New World. Lubezki tampaknya tahu benar bagaimana menghadirkan visi ‘bahasa gambar’ bos-nya itu melalui visual sinematografi dengan tone puitis jempolan, segala sudut-sudut kamerea artistik, teknik pencahayaan apik plus bantuan CGI untuk dapat menghadirkan sebuah paket ‘orgasme’ visual tersebut, bahkan nyaris setiap momen didalamnya dapat anda capture untuk kemudian dijadikan wallpaper di PC anda. Dan tidak ketinggalan, selain mempunyai visual mempesona, ada Alexandre Desplat dengan scoring gospel-klasiknya yang megah, menjadi tandem yang klop untuk mendampingi gambar-gambar luar biasa yang juga terkesan tidak nyambung satu sama lain itu.
Ada Brad Pitt dan Sean Penn disini yang didapuk sebagai pasangan ayah-anak beda jaman. Ketika Pitt masih mampu tampil lumayan sebagai seorang ayah tiga putra dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Penn malah terlihat sebagai pria paruh baya yang sedang kebingungan. Nyaris tanpa dialog, karakternya hanya menampilkan kecemasan dan bergerak kesana kemari tanpa arah, untung saja kemudian Malick membawanya ke sebuah akhir yang menyentuh. Dan adalah aktor muda Hunter McCracken lah yang kemudian menjadi bintang The Tree of Life. Karakter Jack muda yang dibawakannya betul-betul merefleksikan sosok manusia yang tumbuh dan berkembang, dari merasakan bagaimana cinta yang besar dari keluarganya kemudian ia melihat ketidaksempurnaan dan kejahatan disekelilingnya hingga mencemari pribadinya kedepan dengan segala sifat iri, dengki bahkan sampai keinginan untuk membunuh.
Tidak terlalu berlebihan jika saya kemudian menyebut The Tree of Life adalah mahakarya agung, sebuah puisi bergerak, perjalan spiritual dari seorang pujangga hebat bernama Terrence Malick yang dibalut dengan teknis sinematik nyaris sempurna. Ya, ini memang adalah sebuah drama arthouse berat dan sukar untuk dicerna, tapi seperti yang sudah saya katakan diatas, jangan berfikir terlalu keras untuk memahaminya, rasakan saja karena selama anda masih punya hati saya jamin tangan dingin Malick akan mampu menyentuh anda dari dalam dengan caranya yang tidak biasa itu.
Rating: 















“…dan saya percaya mereka yang mengaku bisa menangkap semua simbol-simbol spiritual tentang keberadaan Tuhan dan segala pesan tentang kehidupan yang ingin disampaikan Malick disini hanya dengan sekali menontonnya tanpa kemudian mengubek-ubek google adalah kebohongan besar.” <— eits siapa bilang? aku gak pake ubek2 google lho, cuma nyimpen beberapa siratan pemahaman trus diskusi sama yg abis nonton (baca: yuki, makbul, rangga, fiko, eka), huehehehhe
Lol, coba baca lagi, gw kan bilang ‘SEMUA’, kalo cuman separuh separuh, atau garis besarnya aja ya bisa, dan lu aja harus diskusi bareng yang lain juga kan untuk bisa ngerti san
karena gw percaya hanya Malick yang tau semuanya 
tumben om heavy ngasih ratting tinggi,,
jadi penasaran ama nih film ,,,, bisa di bilang sangat jarang si brad pitt main pilem yang bergendre filosofis
om heavy?!!
#plakkk!!
coba ditonton dulu, siapa tau suka
Iya say a baru nonton sekali
ops: hbs nonton langsung di google
tp sudah niat mau nonton ulang
saya aja udah nonton 4x sis
dan masih belum ngerti sepenuhnya, males ngegoogle juga sih 
sebelum nonton ini saya google dulu dan baca spoilernya dulu malah, jadi ga terlalu bingung juga pas nonton film ini.
film yang punya cerita sederhana memang, tapi dibawakan dengan gaya bertutur bercerita yang tidak sederhana. Disitu letak kehebatannya.
Sebenernya scoring Desplat hampir tidak bisa dikenali karna begitu banyak excerpt musik2 klasik dari Bach, Mahler, Brahms dan banyak koleksi lainnya. Tapi Tree of Life bisa kasih sebuah image interpretasi yg bebas tanpa harus terkungkung oleh kata2 filosofi yg mengdoktrin, atau ayat2 Alkitab yg menggurui, ditemani oleh musik2 klasik yg tidak ternilai.
ah, ada bang erik
soal musik2 klasik gw bisa dibilang buta, cuman bisa jadi pendengar yang baik aja jadi maaf aja kalo gak bisa bedaain mana2 yang memang buatan Dseplat yang original atau yang gubahan dari musik2 klasik karya maestro2 tempo dulu. Tapi setuju, TOL adalah seuah interpretasi bebas, semua orang boleh punya pendapat masing2, yang pasti Malick sudah membuat film yang begitu indah dan menyentuh kita dari dalam 
what an overrated film! *berlalu*
Hmm, ini bukan film untuk semua orang. Dan bukan juga arthouse ringan. Menurut gw sendiri, film masuk kategori “love it” or “hate it”. 85% isi film adalah sebuah filosofi puitis yang dirangkai menjadi ‘slideshow’ sinematografi apik. 15% sisanya adalah cerita.