Review – Senna (2011)

Aryton Senna: ” I don’t know driving in another way which isn’t risky. Each one has to improve himself. Each driver has its limit. My limit is a little bit further than other’s “

Tanyakan kepada setiap fans Formula 1 (F1), saya percaya hampir semua dari mereka pasti mengenal siapa sosok pria dalam gambar diatas. Ya, pria itu adalah Ayrton Senna da Silva, atau biasa di panggil Aryton Senna, salah satu pembalap F1 terhebat sepanjang sejarah yang pernah dimiliki Brasil dan dunia pada era 80′an hingga awal 90′an, dan seperti yang terpampang jelas pada poster dan judulnya, dokumenter garapan sutradara Asif Kapadia ini akan mengajak anda di sepanjang 106 menit kedepan untuk menjadi saksi bagaimana seorang Aryton Senna muda memulai segalanya dari bawah, bagaimana ia kemudian memperoleh segala ketenaran dalam dunia F1, hingga sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya.

Menonton sebuah sajian dokumenter itu memang tidak pernah mudah, ia bisa jadi sangat membosankan semembosankan menonton Formula 1 akhir-akhir ini, apalagi jika anda tidak pernah akrab dengan subjek yang ingin disinggungnya. Tapi untuk kasus Senna ini sedikit berbeda. Anda tidak perlu menjadi fans Aryton Senna atau pernah mengerti banyak soal seluk beluk, sejarah dan segala istilah-istilah dalam dunia F1, biarkan saja dokumenter satu ini mengerjkan tugasnya, memperkenalkan semua itu kepada anda dengan caranya yang sendiri, karena percayalah, ia mampu melakukan itu dengan sangat baik.

Saya menyukai bagaimana sutradara asal Inggris keturunan India ini merangkum semua kekagumannya kepada sosok Senna. Bagaimana ia dan rekan penulis naskahnya, Manish Pandey mampu membuat sebuah dokumenter tampil layaknya sebuah drama biopik olaharga dengan segala unsur dramatisnya dan momen-momen emosionilnya. Ada ratusan jam footage-footage lama yang berhasil dikumpulkan Kapadia dari berbagai sumber , termasuk rekaman video pribadi milik Senna, rekaman setiap perlombaan jet darat yang dilakukan Senna, setiap wawancara termasuk beberapa rekaman yang sebelumnya tidak pernah diperlihat publik untuk kemudian dimatangkan dalam proses editing dengan teknik luar biasa- lihat saja disaat mereka menambahkan setiap teknik zoom out dan slowmotion dengan baik,  termasuk didalamnya menambahkan voiceover testimoni dari berbagai kalangan termasuk keluarganya dan memasukan musik latar emosional untuk dapat membentuk sebuah kesatuan kisah inspirasional dan emosional hebat dari sosok manusia yang tak kalah hebatnya.

Setiap momennya disusun dengan rapi secara periodik disini. Dimulai dari awal  Senna sebagai pemabalap muda Go Kart pada tahun 78 untuk mewakili Brasil, hijrah ke dunia F1 dimana dalam seri ke enam di  bawah panji tim gurem Toleman, ia berhasil memperkenalkan kejeniusannya kepada dunia dengan sugguhan balapan luar biasa pada seri ke enam musim 1984 di sirkuit Monte Carlo, Monaco. Tapi Senna tidak melulu hanya bercerita soal kesuksesan, keglamoran dan kemenangan. Banyak intrik dan konflik yang kemudian mewaranai perjalanan karier Senna hingga membentuknya menjadi seorang pembalap setangguh yang kita kenal sekarang. Yang paling mencolok adalah perseteruannya baik di dalam maupun luar lapangan dengan Alain Prost, pembalap hebat asal Perancis yang juga menjadi rekannya di McLaren yang ditampilkan di pusat film. Tentu saja ini tidak akan menjadi sebuah dokumenter yang netral, karena disini semua tentang Senna dan Senna dan Senna, bahkan Prost sendiri digambarkan sebagai pribadi pengecut dan pemarah dibandingkan Senna yang seperti seorang pahlawan tanpa cela, meskipun lewat pernyataan-pernyataan Prost kita kemudian mengetahui bahwa Senna tidaklah sesempurna itu, ia hanya manusia biasa yang tak lepas dari segala kesalahan dan kepercayaan diri yang kelewat tinggi.

Tapi apapun itu Senna tetap adalah pribadi yang menarik, tidak hanya di ketika ia memacu kendarannya dengan sangat cepat di setiap sirkuit, tapi juga di luar lapangan ia mampu menjadi sosok karismatik yang begitu dielu elukan oleh negaranya. Ia begitu mencintai negaranya- lihat saja disaat ia berhasil secara dramatis memenangkan GP Brazil untuk pertama kalinya, terutama pada anak-anak kurang mampu. Ya, Senna memang dianggap sebagai sosok ‘Santo’ di tanah airnya. Bukan hanya karena kereligiusannya namun juga kepeduliannya dengan anak-anak miskin Brasil ditunjukannya dengan mendirikan yayasan-yayasan bernilai jutaan Dollar.

Dan pada akhirnya  segala sesuatunya bermuara pada klimaks sepanjang 25 menit. Sebuah akhir yang menawarkan tensi ketegangan dan puncak emosi tingkat tinggi termasuk bagaimana Asif Kapadia merangkum kecelakaan-kecelakaan fatal yang terjadi sebelum race utama akhir pekan berlangsung, seakan-akan memberikan pertanda buruk kepada Senna yang tampak merasakan bahwa ajalnya sudah dekat. Ya, kita mungkin sudah mengetahui apa yang akan kemudian terjadi pada balapan hari minggu pagi itu, tapi tetap saja saya tidak pernah berhenti berharap bahwa kecelakaan tragis- yang juga sempat tertangkap dalam rekaman dalam mobil Senna di beberapa detik sebelum tembok pembatas sirkuit merenggut jiwanya itu tidak pernah terjadi, konyol memang, tapi sekali lagi saya harus kembali berterima kasih kepada Asif Kapadia karena ia sudah membuat sebuah dokumenter hebat yang membuat saya dan mungkin penonton lain menjadi begitu dekat kepada sosok Aryton Senna, tidak peduli anda adalah fans atau bukan, sukar untuk menerima kenyataan bahwa sosok sehebat itu telah pergi begitu cepat, meninggalkan sebuah era balapan jet darat Formula 1 yang dipenuhi bahaya namun begitu seru dan mengasyikan, yang saat ini  digantikan dengan segala batasan-batasan dam pengaturan komputer yang  lebih aman dan jauh lebih membosankan. We will miss you Senna!

 

Rating: ★★★★★★★★★☆ 

Tentang Penulis

Hary Susanto Telah Menulis 288 artikel di Blog ini.

A Movienthusiast, movie reviewer, dvd collector, download geek, a -still trying to be good-husband and father from two great kids in the world

  1. susah bgt nyari film’a :mewek

Leave a Comment


[+] kaskus emoticons nartzco