
Lord Voldemort: ” Harry Potter, the boy who lived… come to die. Avada Kedavra! ”
Tak terasa sedekade telah berlalu, saya masih mengingat jelas bagimana semuanya bermula, bagaimana disaat pertama kali pintu rumah keluarga muggle di jalan private drive no 4 itu diketuk oleh seorang pria jangkung berjanggut panjang dengan kacamata berbentuk bulan sabit yang kemudian menitipkan seorang bayi bercodet petir dikepalanya kepada pemilik rumah. Ya, siapa sangka bayi yatim piatu mungil tersebut bakal tumbuh besar, menjelma menjadi salah satu penyihir paling fenomenal, tidak hanya dalam dunianya sendiri, dunia para penyihir yang dibentuk dari imajinasi hebat seorang wanita bernama J.K Rowling, namun kemagisannya juga telah menjalar ke seantero dunia, menyihir para muggle (manusia) yang tumbuh dan berkembang dengan kisah petualangan sihir dan persahabatannya yang magical, sampai-sampai sangking begitu besar pesonanya, ia mampu ‘meng-Imperius’ pemerintah kita hingga pada akhirnya kisah penutup dari saga‘the boy who lived’ ini bisa tayang juga di negara kita tercinta. Ya, maka sambutlah Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2, instalemen pemungkas dari franchise paling dahsyat di abad 21.
Seperti yang sudah kita ketahui bersama embel-embel ‘part 2′ yang tertera di belakang judulnya adalah upaya Warner Bros. tidak hanya untuk memperpanjang nyawa Harry menjadi setahun lebih lama setelah sebelumnya pecahan pertamanya, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 telah meyambut kita terlebih dahulu tahun lalu, atau dari segi bisnis bagian keduanya ini bisa mengumpulkan lebih banyak lagi pundi-pundi Dollar, namun Warner dan Yates punya alasan tersendiri yaitu agar dapat memanjakan para Pottermania di penjuru dunia akan sebuah pemuncak yang maksimal dan tentunya memuaskan, dan setelah saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, tampaknya janji itu bukan sekedar pepesan kosong belaka.


Yap, beginilah seharusnya menutup sebuah franchise sebesar dan sepopuler Harry Potter. David Yates yang sudah 3 kali ini dipercaya ‘mengasuh’ Harry dan kawan-kawannya sejak Harry Potter and the Order of the Phoenix 2007 lalu telah menghadirkan sebuah epik finale maha dahsyat, sebuah sugguhan pemungkas yang kadar emosional serta teknisnya mampu melebihi gabungan semua seri-seri pendahulunya. Dan untuk pertama kalinya saya tidak lagi cerewet membandingkannya dengan versi novel seperti yang kerap kali saya lakukan disaat menonton seri-seri sebelumnya karena kali ini Steve Kloves telah melakukan pekerjaanya dengan baik merangkum paruh kedua kisah the Deathly Hallows dengan sangat baik tanpa terlalu banyak menghilangkan esensi novelnya. Saya begitu terlarut mengikuti momen-momen yang telah dibuat Yates, bahkan sejak disaat musik tema kebesaran franchise Harry Potter bikinan John Williams berkumandang di awal film. Selanjutnya tanpa banyak basa-basi Yates langsung melanjutkan potongan cerita dari bagian pertamanya. Semuanya mengalir lancar dengan tensi yang terus meningkat hingga 2 jam kedepan, nyaris tidak memberikan penontonnya jeda waktu untuk bernafas atau memperdulikan lagi bahwa beberapa karakter pendukungnya sebenarnya kurang mampu diekspos dengan maksimal, karena selain trio Radcliffe- Grint- Watson, Fiennes, Rickman dan Gambon praktis karakter lain hanya tampil sebagai pelengkap cerita semata.
Sejak menit-menit awal kita sudah langsung diajak masuk dalam pusaran petualangan seru Hary, Hermione dan Ron dimana mereka harus membobol bank Gringotts guna menemukan salah satu Horcurx yang tersimpan di dalamnya. Selanjutnya kita diajak terbang menunggangi naga penjaga, beretemu dengan adik laki-laki Albus Dumbledore, Aberforth hingga akhirnya kembali ke Hogwarts, bereuni kembali dengan teman-teman serta para guru sebelum menghadapi pertempuran akhir antara kebaikan dan kejahatan yang dipimpin oleh’dia yang namanya tidak boleh disebutkan’, Voldermort. Pada bagian ini segala emosi memuncak, scoring luar biasa dari Alexandre Desplat mampu berpadu padan dengan momen Battle of Hogwarts yang ditampilkan dalam balutan detil CGI fantastis dari Tim Burke bersama tim spesial efeknya, tampaknya Yates benar-benar jeli memanfaatkan 250 juta Dollar yang dikucurkan kepadanya untuk menghasilkan sebuah klimaks luar biasa. Peperangan hebat dengan skala besar antara para pembela Hogwarts dan para Pelahap Maut menjadi sebuah pemandangan yang mengasyikan sekaligus memilukan. Melihat bagaimana seri penutup Harry Potter ini memiliki aura sangat kelam dan sangat emosional. Begitu banyak kehancuran disana sini dan juga kematian dari para karakter-karakter favorit dengan porsi kekerasan paling tinggi dari seri-seri sebelumnya. Duel-duel sihir spektakuler menjadi pemandangan yang akan sering kita lihat menginjak paruh akhir The Deathly Hallows: Part 2, termasuk pertarungan pemuncak antara Harry dan Pangeran kegelapan yang tersaji begitu cantiknya, hingga kemudian ditutup dengan sebuah ending manis dan sedikit menggelikan.
Mengambil salah satu quote menarik dalam trilogi The Matrix “everything that has a beginning has an end”, dan this is it, 10 tahun sudah berlalu, 4 kali berganti franchise ini berganti sutradara, mengumpulkan separuh aktor dan aktris hebat yang dimiliki Inggris dalam satu film, menghasilkan lebih dari 7 Miliyar Dollar di tujuh filmnya, menghasilkan rekor-rekor box-office fantastis, melambungkan nama tiga pemain utamanya hingga menjadi sebuah ikon pop kultur baru. Ya, tidak ada film wara laba yang sefenomenal saga Harry Potter, tapi seperti tag line nya,‘It’s all ends here’, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 pun menjadi sebuah akhir istimewa dari era dongeng fantasi modern terpopuler di jagat raya ini. Harry Potter dipastikan akan menjadi sebuah epik ‘good vs evil’ yang akan selalu dirindukan dan dikenang sepanjang masa.
Rating: 
















saya puas …….
bagus, hanya kurang puas di ending terakhir saat Harry menang.. I mean, ini kan battle terhebat dalam sejarah dunia sihir namun tidak terdengar sama sekali sorak sorai kegembiraan dan mengelu-elukan Harry.. Seandainya David Yates memaksimalkan elemen ini, mungkin ending Harry Potter akan lebih memiliki impact..
halo bos…ketemu lagi
baru seminggu lalu nonton film ini, tidak terasa it’s will be the end for harry.
Film mengalir terus hingga akhir, dan tidak ada fokus untuk berlama2 disatu adegan, yup..terlalu cepat sepertinya. Btw, aura gelap dan kelam sudah mantap tanpa perlu sorak sorai yg tidak ada gunanya melihat banyak teman, saudara yg tewas. Klimaks yg ditutup dengan closing yg bisa menurunkan adrenalin sepanjang film berlangsung.
Seperti Lord of The Rings, film ini tidak akan mudah dilupakan untuk beberapa tahun kedepan.
setuju bang!
Harry Potter akan menjadi salah satu franchise abadi yang tidak akan mungkin dilupakan