Features

20 Film Terbaik 2016

Dari superhero geblek, bromance aneh, keluarga hippie, penyihir jahat, thriler erotis, invasi alien sampai musikal, ada begitu banyak ragam film-film bagus dari berbagai genre yang silih berganti menyerbu dan memberikan kita sebuah pengalaman sinematis yang tak terlupakan. Berikut adalah 20 film yang harus diakui setengah mati kami pilih untuk bisa masuk ke dalam daftar terbaik karena jujur saja susah untuk memilih dari begitu banyak film luar biasa yang hadir tahun lalu.

#20. Deadpool | Tim Miller

Kalian pasti mengira kami sudah kehilangan akal sehat ketika memilih Deadpool ketimbang Captain America: Civil War untuk nangkring sebagai perwakilan subgenre superhero di list film terbaik tahun lalu Ya, dengan premis pertempuran antara banyak pahlawan super, Civil War jelas adalah gelaran superhero yang seru dan menghibur, tetapi susah untuk benar-benar bisa menandingi Deadpool dengan segala keunikannya. Tidak hanya sukses membawa kegilaan dan kebrutalan komiknya ke layar lebar, sutradara Tim Miller juga menerapkan pendekatan tak biasa untuk menjadikan Deadpool sebagai sajian superhero yang tidak bisa kamu temui setiap hari, seperti misalnya balutan komedi kurang ajar yang tidak pernah malu-malu mengolok-olok dirinya sendiri dan dunia, parade action spektakuler dan tentu saja konsep “breaks the 4th wall” yang mampu melepas tembok batasan antara film dan para penontonnya.

#19. Hell or High Water | David Mackenzie 

Bukan, bukan tampang ganteng Chris Pine yang hilang, digantikan dengan janggut dan kumis yang membuat penampilannya terlihat lusuh dan kumal namun daya tarik dari cerita milik Taylor Sheridan tentang dua bersaudara yang merampok bank dalam balutan western-modern lah yang membuat Hell or High Water menjadi tontonan thriller koboi memikat. Tidak ada yang terlalu baru dalam film garapan David Mackenzie ini memang, namun bagaimana ia mampu menerjemahkan naskah Sheridan dengan sangat efektif termasuk memaksimalkan pesona para pemainnya dari chemistry kuat Ben Foster dan Chris Pine sebagai kakak beradik dari Texas barat yang begitu putus asa membutuhkan uang demi  mempertahankan rumah mendiang ibu mereka, serta penampilan Jeff Bridges yang licik dan pintar sebagai detektif tua yang berada di ujung masa pensiun.

#18. Hello, My Name is Doris | Michael Showalter 

Premis romcom garapan sutradara The Baxter, Michael Showalter yang merupakan adaptasi dari film pendek Doris & the Intern yang juga ditulis oleh salah satu screenwriter nya, Laura Terruso memang menarik meski tidak lagi baru. Konsep romansa ala Harold and Maude nya mungkin tidak sampai terlalu ekstrem mengekspos romansa beda umurnya, tetapi tetap saja melihat bagaimana nenek-nenek peyot dengan busana hippie ala 70’an  berusaha mendapatkan cinta seorang pemuda ganteng yang lebih pantas menjadi anak, atau bahkan mungkin cucunya jelas bisa menjadi tontonan komedi romantis unik yang menghibur. Tetapi harus diakui, meski punya konsep menarik, naskah Hello, My Name is Doris tentu saja tidak akan bisa bekerja maksimal tanpa dukungan penampilan hebat Sally Field dalam satu akting terbaiknya.

#17. The Red Turtle | Michaël Dudok de Wit

Untuk animasi dengan durasi 80 menit The Red Turtle berjalan pelan dan sunyi. Susah mengatakan bahwa ini adalah sajian animasi yang pantas buat penonton kecil yang bisa dipastikan akan kesulitan untuk mengerti pesannya yang dalam, belum lagi saya menyebutkan kualitas animasinya yang jelas kalah menarik dibanding koleganya yang hadir tahun ini macam Moana, Zootopia atau Kubo and the Two Strings, meski sebenarnya pendekatan animasi sederhana dan tradisional de Wit jelas jauh dari kata buruk. Bagi mereka yang mencari sajian animasi dengan konsep lebih dewasa yang menggambarkan relasi alam dan manusia, The Red Turtle jelas adalah pilihan yang tepat. Ketiadaan dialog digantikan dengan suara-suara alam yang menyejukkan, penonton lebih diajak sebagai pengamat yang kemudian merenungi segala momen yang terjadi karena terkadang bahasa visual itu terasa universal, ia bisa lebih banyak berbicara ketimbang kata-kata dan yang terpenting adalah bagaimana de Wit berhasil menghadirkan emosi hanya melalui gerak dan gerik serta permainan mimik wajah.

#16. Swiss Army Man | Dan Kwan, Daniel Scheinert

Susah untuk tidak mengerutkan dahi menonton buddy-movie terbaik sekaligus teraneh tahun lalu ini. Lihat adegan pembukanya yang melibatkan semburan gas nan absurd itu, sinting!. Ya, dengan cepat Swiss Army Man di bawah kendali duo Dan Kwan dan Daniel Scheinert memperkenalkan dirinya sebagai sebuah kisah persahabatan yang tidak ada duanya. Membawa tema ganjil nekrofilia platonik ke dalam bentuk komedi, romansa dan kisah bertahan hidup dengan dukungan cemerlang Paul Dano dan Daniel Radcliffe yang melebur hebat dalam chemistry kuat yang siap membuatmu tertawa, bergidik jijik sampai akhirnya menangis haru.

#15. Captain Fantastic | Matt Ross 

Premis dari drama keluarga hippie tidak biasa ini mungkin terdengar berlebihan. Cerita tentang sebuah keluarga  yang memilih tinggal di hutan, menanggalkan segala pesona dunia modern dengan segala konsumerisme dan kapitalis yang menurut mereka memuakan. Dengan pesan begitu besar tentang arti kebebasan hidup, sutradara Matt Ross membawa kita ke sebuah pengalaman menonton drama keluarga dari sudut berbeda. Ada kehangatan yang berhasil dibentuk oleh kekuatan chemistry para pemainnya, sementara bagaimana melihat mereka memandang hidup dengan caranya sendiri berhasil menghadirkan komedi, kegilaan sekaligus kerutan di dahi. Namun pada akhirnya bagaimana menjadi orang tua yang baik dan bagaimana berkorban buat keluargamu menjadi pesan utama yang ditawarkan dalam Captain Fantastic.

#14. Love & Friendship | Whit Stillman

Mudah sebenarnya untuk langsung menguap lebar hanya dengan melihat tampilan luar adaptasi novel Jane Austen dengan segala set victorian Inggris, lengkap dengan percakapan panjang, korset dan gaun besar serta acara minum teh sore hari. Tetapi percayalah, sedikit kesabaran dibutuhkan untuk bisa nyemplung ke dalam kisah memikat tentang janda cantik Lady Susan. Menampilkan lakon terbaik Kate Beckinsale di luar film-film aksinya, novel Jane Austen tak pernah tampil selucu dan semenyenangkan ini. Whit Stillman menggelar komedi satir cerdas dengan karakter manipulatif yang kita cintai.

#13. The Handmaiden | Park Chan-wook

Thriller erotis terbaru garapan Park Chan-wook ini indah sekaligus narasi sensual penuh belitan yang siap mencekikmu kapan saja. Seksi dan pintar bermain-main di area tabu yang dipenuhi kandungan seks, intimidasi dan intrik tipu menipu yang kompleks. Terjaga dengan intensitas kuat di sepanjang film, The Handmaiden turut didukung dengan penampilan gemilang dari para cast wanitanya yang bermain total dan penuh hasrat. Pada akhirnya ia mungkin bukan menjadi karya terbaik seorang Park Chan-wook dalam karier penyutradaraannya namun ini jelas adalah salah satu film yang paling berani tahun lalu.

#12. Hacksaw Ridge | Mel Gibson

Come back penyutradaraan yang fantastis dari seorang Mel Gibson setelah sedekade absen dan lebih banyak berkutat sebagai pemain di genre-genre action kelas dua. Hacksaw Ridge akan memberimu sebuah pengalaman menonton film anti perang yang luar biasa, terlebih secara teknis dengan segala gelaran audio visual yang sanggup membuatmu terkencing-kencing. Gibson membawa langsung ke medan perang brutal nan kejam untuk menguji sampai di mana kamu bisa merasakan ketakutan dan ketegangan namun di saat bersamaan ia juga memberikan sebuah pertunjukan emosional tentang kepahlawanan dan keberanian luar biasa yang datang dari seseorang prajurit yang tidak pernah mau membawa senjata ke medan perang.

#11. Sing Street | John Carney

Kita tahu bagaimana kualitas seorang  John Carney ketika ia membuat drama-drama musikal, dari Once sampai Begin Again, Carney sukses menghadirkannya dengan semangat dan hati yang besar. Tidak terkecuali dengan Sing Street. Di sini Carney membawa kita kembali ke Dublin tahun 1985, bertemu dengan para pecundang-pecundang muda yang bersatu dalam sebuah grup band jalanan, mencari jati diri dalam cinta dan musik. Dibalut dengan semangat pop era 80’an kental di mana MTV, Duran Duran, A-ha, sampai Spandau Ballet bergiliran memberi pengaruh besar narasi Carney dan filmnya itu sendiri secara keseluruhan. Sing Street jelas adalah drama musikal terbaik tahun lalu yang mungkin hanya kalah dari La La Land yang memang terlalu perkasa.

#10. Siti | Eddie Cahyono

Drama garapan Eddie Cahyono itu jelas bukan jenis film yang mampu meraup jutaan tiket, bahkan faktanya, ia hanya ditayangkan di segelintir bioskop dengan layar dan jam tayang yang sangat terbatas pula. Saya tidak menyalahkan pihak bioskop, toh, film hitam putih dengan aspek rasio sempit plus 90% karakternya berdialog Jawa yang disajikan dengan aroma arthouse kental jelas bukan bahan jualan yang potensial. Premis yang ditawarkannya pun simpel, sesuai judulnya, ini adalah cerita dari pantai Parangtritis, Yogyakarta tentang Siti, seorang istri dan ibu muda yang harus berjuang memenuhi hidup keluarganya setelah sang suami mengalami kecelakaan di saat bekerja sebagai nelayan. Lihat, begitu simpel, begitu sederhana, tetapi siapa yang menyangka di balik kebersahajaan ceritanya ia memberikan pertunjukan emosi ‘mentah’ yang begitu keras menampar tentang pilihan-pilihan dan pengorbanan luar biasa dalam hidup yang tidak pernah mudah untuk dijalani.

#9. The Witch | Robert Eggers

Dongeng gelap tentang penyihir wanita jahat dari perkampungan puritan di New England di abad ke-17 milik Rober Eggers ini menjadi film paling menghantui di sepanjang 2016 lalu. Dipenuhi dengan dialog-dialog lama yang susah untuk dimengerti tanpa bantuan subtitle. Cerita tentang keluarga Kristen fanatik pemuja kitab suci yang keimanan mereka goyah diganggu oleh iblis dari hutan gelap ini punya nada yang suram dan depresif. Dibangun perlahan oleh plotnya yang merayap dengan iring-iringan scoring eerie, susah untuk bisa duduk nyaman di saat sang penyihir mulai bergentayangan, menculik bayi, mengubah bentuk dan perlahan menghancurkan keluarga kecil itu dan juga emosi penontonnya tanpa ampun.

#8. Things To Come | Mia Hansen-Løve

Drama domestik Perancis tentang krisis paruh baya seorang guru SMU ini dihadirkan dengan begitu cermat dan lembut oleh Mia Hansen-Løve yang sebelumnya juga pernah bercerita tentang kegalauan masa muda melalui Goodbye First Love. Disajikan secara episodik, Hansen-Løve mengajak penontonnya untuk mengeksplorasi karakter Nathalie bersama narasinya yang sepi namun kontemplatif tanpa harus bermelodrama ria. Kita menjadi saksi dari sebuah studi karakter hebat. Ada kecemerlangan dalam bertutur untuk memaparkan idealismenya dan semangat besar karakter utamanya akan hasrat dalam mengajar, termasuk kekuatan intelektualnya yang bisa kita lihat dari obrolan tentang politik dan filosofi serta ratusan buku yang berjajar dan tertata rapi di rak-rak besar di rumahnya yang nyaman namun di sisi lain, kita juga melihat sebuah kerapuhan ketika kehidupan menghajarnya bolak-balik di saat yang hampir bersamaan. Dan ketika pertama kalinya Nathalie merasakan sebuah kebebasan hidup, penonton kembali diajak untuk merasakan sisi kecemasan dan ketakutan akan kesendirian seorang wanita di masa tuanya.

#7. Our Little Sister | Hirokazu Koreeda 

Keluarga disfungsional, percakapan sehari-hari dengan set  lokasi tenang di pinggir kota Jepang dengan iring-iringan suara jangkrik yang bernyanyi, ya, semua bumbu yang kamu butuhkan untuk memasak drama keluarga ala Hirokazu Koreeda ada di sini. Diceritakan dengan lembut, Our Little Sister berisi narasi tentang bagaimana kematian mempersatukan tiga kakak beradik dengan saudara tirinya. Tidak seperti beberapa karyanya yang terasa menghancurkan hati, Our Little Sister memilih jalan yang lebih hangat dengan begitu menawarkan banyak kesejukkan. Melihat bagaimana perempuan-perempuan muda ini mencoba hidup mandiri,  move on dari situasi broken home yang diakibatkan pertikaian kedua orang tua mereka. Dihadirkan dengan sebuah keintiman

#6. Your Name | Makoto Shinkai

Semua hal-hal luar biasa yang cari dari animasi garapan Makoto Shinkai ada di sini. Dari visual animasi dua dimensi yang sangat memesona dengan segala detailnya, cerita cinta yang sanggup membuatmu baper habis sampai pemilihan soundtrack yang juara. Ya, Your Name punya segudang amunisi untuk menjadikannya salah satu animasi terbaik tahun lalu. Cerita tentang dua anak manusia yang bertukar tubuh secara ajaib tentu saja adalah sebuah premis fantasi menarik, tetapi tidak cukup sampai di situ,  Shinkai memberi belitan mengejutkan pada klimaksnya yang sanggup meremukkan hatimu hingga berkeping-keping sampai kemudian endingnya yang mendebarkan datang mengobati segalanya.

#5. Land of Mine | Martin Zandvliet

Menonton Land of Mine layaknya seperti tengah berjalan di ladang ranjau itu sendiri, kamu tidak pernah tahu kapan dan di mana kamu akan menginjak salah satunya. Ya, ada intensitas begitu tinggi setiap kali melihat bagaimana bocah-bocah Nazi yang menjadi tahanan perang pemerintah Demark pasca perang dunia ke-2 merangkak di atas pasir, mencari ribuan ranjau aktif sisa perang di pesisir pantai dengan nyawa sebagai taruhannya. Ini bukan sekedar cerita dari perang dunia ke-2 yang berbeda, bukan sekedar cerita tentang bagaimana para penjinak ranjau beraksi, ada sisi kemanusiaan yang turut coba dibawa oleh sutradara Martin Zandvliet dalam usahanya menghadirkan sebuah pesan anti-perang dengan nada depresif yang siap menghancurkan hatimu kapan saja tanpa ada peringatan sebelumnya.

#4. Elle | Paul Verhoeven 

Tidak mudah untuk menjadikan aktris 63 tahun sebagai sentral sebuah thriller erotis, namun sutradara gaek Paul Verhoeven bersama aktris veteran Perancis, Isabelle Huppert yang tengah bersinar terang tahun berhasil dengan sangat luar biasa menjadikan Elle sebagai gelaran thriller psikologis Perancis dengan bumbu seksual yang disturbing dan studi karakter yang powerfull. Memulai segalanya dengan adegan pemerkosaan mengerikan yang dilakukan seorang pria bertopeng, Verhoeven memperkenalkan kepada penontonnya karakter Michele, pemilik sebuah perusahaan video game dengan pribadi yang kompleks. Dibenci oleh pegawainya sendiri, Michele adalah produk dari sebuah keluarga disfungsional dengan masa lalu yang kelam. Huppert mendominasi Elle dengan pesona dan kekuatan akingnya, membawa karakter Michele sebagai sentral gravitasi bersama lapisan plot yang siap menyedotmu ke dalam pusaran cerita yang gelap dan penuh benturan.

#3. Toni Erdmann | Maren Ade 

Kisah hubungan ayah-anak tak pernah dibuat sesederhana sekaligus kompleks di saat bersamaan dengan cara tersendiri. Sutradara sekaligus penulis Jerman, Maren Ade tak hanya berhasil menyajikan suguhan komedi pintar yang membekas tapi juga mengenalkan kita pada karakter-karakter yang depresi dan menyebalkan. Sulit untuk tak terpikat dengan Toni Erdmann yang meskipun memiliki durasi cukup panjang, namun berhasil mengurai alurnya dengan begitu baik ini. Di satu sisi kita dibuat tertawa melihat humornya yang cerdas, namun di sisi lain juga dibuat terenyuh dengan karakter-karakternya yang rapuh serta jangan lupakan isu sosialnya yang kontemplatif. Dan kini karakter Toni Erdmann bisa menjadi salah satu sosok favorit kita dari layar sinema.

#2. Arrival | Denis Villeneuve

Dengan konsep invasi alien lengkap dengan kedatangan banyak pesawat asing berbentuk aneh di seluruh penjuru dunia, Arrival bisa saja memilih jalan sebagai sajian penyerbuan makhluk extraterrestrial  generik ala Independence Day, tetapi tentu saja itu tidak pernah terjadi selama seorang Denis Villeneuve yang memegang kendali. Timbang memilih jalur hura-hura yang dipenuhi ledakan dan aksi yang berisik,  Villeneuve melakukan pendekatan berbeda yang lebih tenang namun mencekam dengan memanfaatkan visual dan scoring yang super intens. Konsep yang dilebarkan oleh penulis naskah Eric Heisserer dari cerita fiksi ilmiah pendek Ted Chiang bertajuk Story of Your Life ini menggunakan. kekuatan bahasa dan komunikasi dari seorang ahli linguistik yang dimainkan sempurna oleh Amy Adams timbang senjata dan kekerasan, hasilnya, Arrival berakhir luar biasa menjadi sebuah tontonan yang humanis termasuk pesan spiritual yang dalam tentang kehidupan itu sendiri dengan permainan garis waktu dan belitan kuat yang sanggup meninggalkan bekas luka di ingatanmu dalam jangka waktu yang lama.

#1. La La Land | Damien Chazelle 

Momen tap dance memesona yang dibawakan Ryan Gosling dan Emma Stone di puncak Hollywood Hills berlatar warna lembayung senja melankolis dan iring-iringan “A Lovely Night“  saja sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menjadikan La La Land sebagai film terbaik versi kami tahun lalu. Namun tentu saja ada begitu banyak alasan lain mengapa kami memuja  karya Damien Chazelle terbaru ini dengan segenap jiwa. Membukanya dengan salah satu opening musikal terbaik, La La Land dengan mudah langsung menghipnotis para penontonnya termasuk mereka yang membenci genre ini dengan premis sederhana namun padat tentang para orang-orang bodoh pencari mimpi di Los Angeles yang glamor namun kejam yang diwakili oleh dua sejoli yang dilanda kasmaran dan mimpi. Dipresentasikan dengan sangat-sangat apik dalam nuansa retro-modern bersama iring-iringan musik jazz lembut dan tembang-tembang menawan, susah untuk bisa menolak surat cinta pahit-manis tentang musik, impian, cinta dan film itu sendiri.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top