Features

15 Film Horor Terbaik 2016

Tahun 2016 lalu bisa dibilang adalah tahun yang bagus buat para penggemar horor. Dari penyerbuan rumah, atologi, pembedahan mayat,  penyihir jahat, zombie, pembunuh berantai, hantu biarawati, sampai hiu putih ganas silih berganti memberikan sebuah sajian teror yang sanggup membuat jantung kecilmu berlari kencang. Tentu saja tidak bisa semua muat kami masukkan ke dalam daftar sempit ini, hanya 15 terbaik yang menurut kami pantas duduk di posisi tertinggi di sepanjang 12 bulan silam. Horor-horor yang kami rasa pantas sebagai tantangan untuk menguji nyalimu.

 

#15. Southbound | Radio Silence, Roxanne Benjamin, David Bruckner & Patrick Horvath

Dari pentolan-pentolan yang bertanggung jawab dengan kegilaan dalam  antologi horor V/H/S, Southbound datang dengan pakem banyak cerita yang sama namun dengan perlakuan yang sedikit berbeda. Kandungan misteri ala Twilight Zone-nya begitu kuat menyedotmu dalam pusaran pekat tentang usaha manusia dengan rasa bersalah dan usaha penebusan dosanya.

#14. The Conjuring 2 | James Wan

Kehadiran dramanya yang terasa lebih sentimentil mungkin akan mengurangi sedikit ancaman pada teror rumah hantunya, tetapi di sisi lain juga memperkuat narasi dan karakternya. Tetapi apa pun itu, The Conjuring 2 tetap adalah sebuah sekuel yang sama solidnya dengan pendahulunya. James Wan lagi-lagi melakukan pekerjaannya dengan sangat baik ketika memodifikasi premis generiknya menjadi sajian audio visual yang penuh ancaman.

#13. The Invitation | Karyn Kusama

Siapa sangka acara reuni sekaligus makan malam hangat di kawasan Hollywood Hills berubah menjadi mimpi buruk ketika tua rumah punya agenda misterius yang dipersiapkan buat tamu-tamunya. Plotnya yang sedikit lamban dan dihiasi banyak dialog-dialog formal dan basa-basi di awal perlahan namun pasti bergerak menuju kecurigaan oleh karakter yang dimainkan oleh Logan Marshall-Green yang di sini penampilannya mengingatkan pada Tom Hardy. Ada teror psikologis yang dimainkan dengan cerdas oleh sutradara Karyn Kusama dalam usahanya menghadirkan paranoia dalam situasi serba tidak nyaman sekaligus sindiran tentang gaya modern, dan ending-nya akan mengejutkanmu.

#12. Lights Out | David F. Sandberg

Jika Jaws mampu membuatmu takut berenang di laut maka Lights Out akan memaksamu tidur dengan lampu menyala. Ya, David F. Sandberg bisa dibilang sukses melebarkan premis simpel namun berkesan dari horor pendeknya yang tidak sampai 3 menit itu menjadi gelaran penuh teror dan kegelisahan akan gelap di sepanjang 81 menit durasinya.

#11. I Am Hero | Shinsuke Sato

Seperti Dawn of The Dead versi Jepang dengan segala kebrutalan dan keunikan yang siap membuatmu tertawa sama keras dengan jeritan ketakutanmu. Adaptasi manga berjudul sama milik Kengo Hanazawa ini punya elemen from zero to hero dan komedi hitam kuat yang mampu menjadi daya tarik utama selain teror para zombie aneh itu sendiri.

#10. Green Room | Jeremy Saulnier 

Susah sebenarnya untuk bisa benar-benar memasukkan karya Jeremy Saulnier ini ke dalam kategori horor meski cerita tentang pengepungan yang dilakukan para skinhead kejam pimpinan Patrick Steward kepada sebuah grup band punk yang dikomandani oleh Anton Yelchin punya segala elemen ketegangan dan kengerian hebat yang dibutuhkan untuk membuatmu duduk terpaku. Ada kebrutalan yang digarap bersama kejutan-kejutan tak terduga. Ketika sepertinya kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya, BOOOM! Saulnier kemudian menghantam telak oleh pilihan-pilihannya yang tidak pernah kamu duga.

#9. 10 Cloverfield Lane | Dan Trachtenberg

Siapa sangka invasi alien milik J.J Abrams dengan moster besar mengerikan di jalan-jalan besar kota New York yang memusingkan dengan segala penggunaan kamera genggamnya ternyata bisa berbeda jauh di sekuel lepasnya ini. Ya, 10 Cloverfield Lane mungkin hanya sekedar menjadi penumpang kecil di dunia Cloverfield. Tampil dengan begitu efektif sebagai sebuah thirller ruang sempit yang mencekam dan pintar. Kudos buat penyutradaraan hebat Dan Trachtenberg di film perdananya dan tentu saja dukungan naskah solid, penampilan memukau dari para pemainnya dan tentu saja ending yang semakin membuat franchise ini semakin jauh dan jauh lagi.

#8. The Shallows | Jaume Collet-Serra

Rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa The Shallows sudah membawa genre shark attack kembali ke penampilan terbaiknya pasca The Jaws yang legendaris itu. Ya, ada horor yang bersembunyi di sebuah ‘surga’ rahasia yang juga menjadi saksi perjuangan bertahan hidup mahasiswi kedokteran seksi yang terjebak seorang diri di tengah karang setelah hiu putih besar menyerangnya ketika tengah berselancar. Durasi yang tidak panjang, visual indah dan penyutradaraan padat Jaume Collet-Serra membuat The Shallows tampil begitu efektif dalam menghadirkan ketegangan demi ketegangan, pertempuran antara manusia melawan alam yang digerakkan dengan sangat kuat oleh Blake Lively yang menawan.

#7. Under The Shadow | Babak Anvari

Jarang-jarang ada horor yang bisa berbicara banyak dari sekedar menebar rasa takut, Under The Shadow di bawah arahan debutan  Babak Anvari adalah salah satu dari sedikit horor spesial yang mampu dengan pintar dan efektif mengombinasikan kecemasan dan rasa tak nyaman dari sebuah ancaman supranatural, peperangan dan politik di saat bersamaan. Siapa yang menyangka sekelebatan adegan selendang terbang bisa membuatmu bergidik hebat.

#6. Train to Busan | Yeon Sang-ho

Seperti mengawinkan elemen-elemen dalam Snowpiercer dan World War Z, Mungkin itu gambaran yang pas untuk apa yang terjadi di sini. Ya, tidak berlebihan rasanya jika menobatkan Train to Busan sebagai tontonan zombie apocalypse terbaik yang pernah dibuat perfilman Korea Selatan atau mungkin perfilman dunia. Tidak hanya memberikan pertunjukan teror yang penuh kengerian, kejutan dan ketegangan bersama mayat-mayat rakut, namun di saat bersamaan ia juga menghajar telak emosimu dengan melodrama kemanusiaannya yang menghenyak

#5. The Autopsy of Jane Doe | André Øvredal   

Kamar mayat, jenazah korban pembunuhan yang aneh, proses pembedahan yang menjijikkan dan kejadian supranatural menakutkan adalah hal-hal yang akan kamu temui di sini. Ada kesenangan di saat melihat pasangan ayah-anak dengan penuh semangat mengubek-ubek mayat wanita cantik misterius, ada rasa penasaran melihat kejanggalan-kejanggalan yang kemudian disusul dengan rasa takut yang datang bersamaan dengan atmosfer mencekam dan sebuah penyibakan yang menghentak.

#4. The Eyes of My Mother  | Nicolas Pesce

Pemilihan warna monokromnya mungkin tidak populer dan menjurus artsy, tetapi percayalah ada begitu banyak kengerian yang ditawarkan oleh debut penyutradaraan Nicolas Pesce ini meski tanpa warna merah darah. Ini sebenarnya adalah sebuah drama keluarga disfungsional, tetapi ketika kemudian adegan-adegannya melibatkan mata tercungkil, mutilasi dan leher tergorok, susah untuk tidak melabeli The Eyes of My Mother sebagai sebuah horor yang sakit jiwa.

#3. Don’t Breathe | Fede Alvarez

Seperti judulnya, Don’t Breathe akan mengajakmu ke sebuah pengalaman menonton horor home invasion yang membuatmu susah bernafas. Tidak hanya memiliki ide yang bagus tentang penyerangan sebuah rumah, namun juga turut didukung dengan eksekusi yang sama hebat dan efisiennya yang siap membuatmu ketakutan sendiri tanpa benar-benar tahu apa yang akan terjadi kemudian. Ini hanya baru karya kedua Fede Alvarez setelah Evil Death, dan kita akan terus menanti kejutan apa yang akan diberikannya di masa depan.

#2. The Wailing | Na Hong-jin

The Wailing seperti jawaban Korea Selatan untuk The Witch. Keduanya punya cerita mengerikan tentang sosok iblis yang bersemayam di sebuah desa terpencil, hanya saja horor garapan Na Hong-jin memilih untuk berada dalam dunia lebih modern dengan cerita yang dimulai dengan kasus pembunuhan, penyelidikan, wabah misterius yang nantinya berujung dengan kengerian demi kengerian dan ending yang akan terus mengusik dalam ingatanmu. Durasinya yang panjang menjadi tidak terasa ketika Hong-jin dengan cerdas menuntunmu perlahan, menyaksikan bagaimana seorang polisi dari dusun kecil harus berhadapan dengan kekuatan yang berada di luar jangkauannya

#1. The Witch | Robert Eggers

Dongeng gelap tentang penyihir wanita jahat dari perkampungan puritan di New England di abad ke-17 milik Rober Eggers ini menjadi film paling menghantui di sepanjang 2016 lalu. Dipenuhi dengan dialog-dialog lama yang susah untuk dimengerti tanpa bantuan subtitle, cerita tentang keluarga Kristen fanatik yang keimanan mereka goyah diganggu oleh iblis dari hutan gelap ini punya nada yang suram dan depresif. Dibangun perlahan oleh plotnya yang merayap dengan iring-iringan scoring eerie, susah untuk bisa duduk nyaman di saat sang penyihir mulai bergentayangan, menculik bayi, mengubah bentuk dan perlahan menghancurkan keluarga kecil itu tanpa ampun.

Comments

Populer Minggu Ini

Facebook

To Top